Jakarta, CoreNews.id – Presiden Republik Indonesia sekaligus Panglima Tertinggi Tentara Nasional Indonesia (TNI), Prabowo Subianto, menyampaikan duka mendalam yang tak terperi atas gugurnya tiga prajurit terbaik bangsa. Mereka tewas saat menjalankan tugas mulia dalam misi pemeliharaan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon Selatan, wilayah yang tengah dilanda eskalasi konflik.
Peristiwa pilu ini terjadi dalam dua hari berturut-turut, mengubah misi kemanusiaan menjadi tragedi kemanusiaan. Duka menyelimuti Istana Negara dan seluruh rakyat Indonesia atas pengorbanan para pahlawan yang telah membawa nama harum bangsa di kancah internasional.
“Innalillahi wa innailaihi rajiun. Turut berduka cita atas gugurnya Kapten Inf. Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ichwan, dan Praka Farizal Rhomadon saat menjalankan misi perdamaian di Timur Tengah,” tulis Prabowo melalui unggahan di akun resmi Instagram @prabowo, Selasa (31/3/2025).
Dalam unggahannya, Prabowo tidak hanya menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum. Ia juga menegaskan bahwa pengabdian para prajurit merupakan bentuk dedikasi dan keberanian tertinggi dalam menjaga perdamaian dunia. Pemerintah, lanjutnya, memberikan penghormatan setinggi-tingginya atas jasa dan pengorbanan yang telah diberikan.
Dua Insiden Mematikan dalam Dua Hari
Kesedihan ini menjadi semakin mendalam karena tiga prajurit gugur dalam dua serangan terpisah yang terjadi secara beruntun. Insiden pertama terjadi pada Minggu (30/3/2025), ketika Praka Farizal Rhomadon gugur akibat serangan artileri tidak langsung di dekat posisi kontingen Indonesia di Adchit Al Qusayr, Lebanon selatan. Tiga personel lainnya, Praka Rico Pramudia, Praka Bayu Prakoso, dan Praka Arif Kurniawan, mengalami luka-luka dalam serangan tersebut.
Tepat sehari setelahnya, Senin (31/3/2025), duka kembali menyergap. Sebuah konvoi logistik Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) yang sedang bertugas di dekat Bani Hayyan menjadi sasaran serangan. Akibatnya, dua personel TNI lainnya, Kapten Inf. Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan, gugur di tempat. Dua personel lain juga dilaporkan terluka dalam insiden kedua ini.
Pemerintah Menuntut Akuntabilitas Penuh
Atas rangkaian serangan keji yang menargetkan pasukan penjaga perdamaian ini, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mengeluarkan pernyataan sikap yang tegas dan tidak kenal kompromi. Indonesia mengutuk keras serangan tersebut dan menilai tindakan itu sama sekali tidak dapat diterima.
“Indonesia kembali berduka atas gugurnya para peacekeepers dan menyampaikan solidaritas kepada keluarga yang ditinggalkan, serta mendoakan pemulihan yang cepat bagi para personel yang terluka. Serangan ini tidak dapat dipandang sebagai kejadian yang terpisah, melainkan mencerminkan situasi keamanan yang semakin memburuk di Lebanon selatan,” demikian pernyataan resmi Kemlu RI, Selasa, 31/3/2026.
Kemlu RI menekankan bahwa keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian PBB adalah hal yang tidak dapat ditawar. Pemerintah secara tegas menyerukan perlunya penyelidikan yang cepat, transparan, dan menyeluruh.
“Indonesia menyerukan dilakukannya penyelidikan segera, menyeluruh, dan transparan untuk mengungkap fakta, termasuk kronologi kejadian serta pihak yang bertanggung jawab, dan menegaskan bahwa akuntabilitas penuh harus ditegakkan,” tegas pernyataan tersebut.
Pemerintah juga memandang bahwa terulangnya serangan dalam waktu singkat ini merupakan bukti nyata buruknya situasi keamanan di Lebanon. Indonesia menilai operasi militer yang terus berlangsung telah menempatkan para penjaga perdamaian PBB pada risiko yang sangat serius dan melemahkan pelaksanaan mandat UNIFIL sesuai Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701.
Dengan gugurnya tiga prajurit terbaik ini, Indonesia kembali mengingatkan dunia akan harga mahal yang harus dibayar untuk perdamaian. Tuntutan untuk mengusut tuntas dan menghukum para pelaku kini menjadi seruan utama dari pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia.













