Washington, CoreNews.id — Pengumuman gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang disampaikan Presiden Donald Trump dinilai sejumlah pihak justru memuat kondisi yang merugikan Washington. Kesepakatan tersebut disebut mencerminkan kekalahan strategis Amerika setelah konflik yang dipicu serangan sejak akhir Februari lalu. Namun demikian hingga kini, bentuk pasti kesepakatan jangka panjang kedua negara masih belum jelas.
Menurut media pemerintah Iran, gencatan senjata dibangun berdasarkan sepuluh poin proposal yang diajukan Teheran, termasuk tuntutan maksimal yang sebelumnya ditolak pemerintahan Trump. Selain itu, perubahan signifikan juga terjadi di Selat Hormuz yang kini berada dalam kendali Iran bersama Oman. Jalur vital yang dilintasi sekitar 20 persen perdagangan migas dunia itu disebut tak lagi sepenuhnya terbuka seperti sebelum konflik. Berdasar laporan Associated Press, Iran dan Oman diizinkan mengenakan biaya bagi kapal yang melintas sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata dua pekan yang dimediasi Pakistan, meski detail penggunaannya belum sepenuhnya jelas.
Di sisi lain, Iran juga menegaskan hak melanjutkan pengayaan uranium sebagai bagian dari proposal yang diajukan kepada Amerika. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran bahkan mengklaim seluruh poin telah diterima Washington, meski belum dikonfirmasi pihak AS.
Hasil pengumuman gencatan senjata tersebut segera mendapat tanggapan keras peneliti non-residen Atlantic Council, Danny Citrinowicz. Dilansir dari the Guardian, Danny menilai kesepakatan tersebut jauh dari janji awal. “Rezim ini masih berkuasa. Kemampuan misilnya meskipun rusak masih utuh. Negara ini masih menyimpan sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen,” katanya, mempertanyakan capaian strategis Amerika.
Hal sama disampaikan Senator Demokrat Chris Murphy. Ia mempertanyakan dampak kesepakatan tersebut, terutama jika benar memberi Iran kendali lebih besar atas jalur pelayaran strategis. Ia menyebut langkah militer Trump berpotensi menjadi kesalahan perhitungan besar dengan konsekuensi global.*












