Jakarta, CoreNews.id – Lanskap keamanan siber di Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, baik dari sisi kompleksitas maupun volume ancaman. Perusahaan keamanan siber global, Kaspersky, mencatat lebih dari 14,9 juta serangan berbasis web serta 39,7 juta ancaman pada perangkat berhasil dideteksi dan diblokir sepanjang 2025.
Selain itu, sekitar 20% perusahaan di Indonesia dilaporkan mengalami serangan rantai pasokan. Kondisi ini mendorong organisasi untuk memperkuat sistem pertahanan digital mereka di tengah ancaman yang terus berkembang.
Secara global, Kaspersky membukukan pertumbuhan bisnis positif dengan peningkatan penjualan sebesar 4% secara tahunan (year-on-year/YoY), mendekati USD 836 juta pada 2025. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh segmen B2B yang naik 16% YoY.
Di kawasan Asia Pasifik, pertumbuhan juga mencapai 4% YoY, dengan segmen enterprise meningkat hingga 22% YoY dan non-endpoint melonjak 40% YoY. Sementara itu, segmen B2C mencatat kenaikan pelanggan baru sebesar 19%.
Managing Director Asia Pasifik Kaspersky, Adrian Hia, mengatakan pihaknya terus mengembangkan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk menghadapi tantangan keamanan siber. “Hasil kuat kami di Asia Pasifik menunjukkan posisi strategis Kaspersky dalam mengamankan transformasi digital kawasan ini,” ujarnya di Jakarta, Rabu 08/04/2026.
Di Indonesia, Kaspersky mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 3% YoY, dengan lonjakan signifikan pada segmen B2C hingga 48%. Country Manager Kaspersky Indonesia, Defi Nofitra, menilai peningkatan ini sejalan dengan semakin tingginya kesadaran keamanan siber di Tanah Air.
Seiring meningkatnya ancaman, perusahaan mulai beralih dari pendekatan reaktif ke strategi proaktif melalui pembangunan Security Operations Center (SOC). Sebanyak 58% pengambil keputusan TI di Indonesia meyakini SOC mampu meningkatkan keamanan siber, sementara 65% berencana mengintegrasikannya dengan AI.
Namun, implementasi SOC masih menghadapi tantangan, seperti keterbatasan data pelatihan, kekurangan tenaga ahli AI, serta minimnya solusi yang sesuai di pasar.
Kaspersky menekankan pentingnya SOC terintegrasi yang didukung teknologi SIEM dan intelijen ancaman real-time guna mempercepat deteksi dan respons terhadap serangan siber, sekaligus menjaga ketahanan bisnis di era digital.












