Jakarta, CoreNews.id — Pemulihan pasar properti di Jakarta berlanjut pada kuartal pertama 2026, memasuki fase pertumbuhan yang lebih berkelanjutan dan ditopang faktor struktural. Riset CBRE Indonesia menunjukkan peningkatan kualitas permintaan di sektor perkantoran, industri/logistik, dan ritel, seiring kondisi makroekonomi yang stabil serta pasokan baru yang lebih terkendali.
Hal tersebut disampaikan Managing Director CBRE Advisory Indonesia, Angela Wibawa dalam CBRE Indonesia Media Briefing di Jakarta, (6/5/2026). Menurut Angela, pemulihan kali ini lebih sehat dibanding siklus sebelumnya karena tidak lagi didominasi pengembangan spekulatif, melainkan permintaan riil dari penyewa dan pengguna akhir. Kondisi tersebut membuat pasar lebih terprediksi dan mendorong kepercayaan investor maupun penyewa dalam mengambil keputusan jangka panjang.
Dari sisi makro, Head of Research & Consulting CBRE Indonesia, Anton Sitorus, menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil di kisaran 5 persen menjadi fondasi kuat bagi sektor properti. Realisasi investasi pada kuartal pertama 2026 mencapai sekitar Rp 500 triliun, didominasi sektor industri hilir, jasa, dan pertambangan. Di sisi lain, pasar ritel juga menguat dengan tingkat hunian mal mencapai sekitar 86 persen, ditopang ekspansi tenant F&B dan gaya hidup. Permintaan bersih tercatat sekitar 15.600 meter persegi, didukung oleh ekspansi tenant F&B, lifestyle, serta peritel jasa hiburan/leisure. Pusat perbelanjaan kelas atas tetap menjadi yang berkinerja terbaik dengan tingkat hunian di atas 95%, sementara mal kelas menengah-atas juga menunjukkan perbaikan yang stabil.
Di sektor perkantoran, pasar menunjukkan perbaikan pada awal 2026. Co-Head of Office Services CBRE Indonesia, Judy Sinurat, menyebut tidak adanya tambahan pasokan baru di kawasan CBD mendorong penyerapan ruang kantor sekitar 21.300 meter persegi dan tingkat hunian naik menjadi 76,1 persen. Permintaan bergeser ke gedung Premium Grade dan Grade A, didorong relokasi tenant serta preferensi terhadap bangunan berkualitas dan hemat energi. Sementara di kawasan non-CBD, tambahan pasokan dari satu proyek baru di Pantai Indah Kapuk sebesar 56.000 meter persegi diimbangi penyerapan sekitar 22.800 meter persegi, dengan tingkat hunian mencapai 72,9 persen. Harga sewa di kedua kawasan mulai menunjukkan tren kenaikan, terutama pada gedung dengan lokasi strategis dan kualitas lebih baik.
Sektor industri dan logistik turut mencatat kinerja positif dengan penyerapan lahan sekitar 86 hektare dan tingkat hunian 90,8 persen, didorong aktivitas di koridor timur Jakarta serta pertumbuhan pusat data. Hal tersebut, disampaikan Ivana Susilo, Head of Capital Markets & Industrial Services. Ivana menambahkan jika keterbatasan lahan di kawasan mapan seperti Cikarang mendorong kenaikan harga, sementara pusat logistik modern mencatat tingkat hunian hingga 98 persen berkat tingginya permintaan dari sektor e-commerce, FMCG, dan manufaktur.
CBRE juga menilai pasar properti Jakarta kini berada dalam fase peralihan dengan risiko yang lebih terukur dan terkendali. “Pasar lebih matang dan seimbang, dengan pertumbuhan yang mungkin lebih moderat namun berkelanjutan,” pungkas Angela.*












