Makassar, CoreNews.id — Bank Indonesia akan segera memperluas implementasi Local Currency Transaction (LCT) dengan Singapura, India, dan Arab Saudi setelah penyusunan dan penyepakatan operational guidelines rampung dilakukan. Perkembangan LCT yang dilakukan Bank Indonesia diawali dengan Malaysia dan Thailand, kemudian berkembang ke Jepang, Cina, Korea, Singapura, India, dan Uni Emirat Arab (UEA).
Hal tersebut disampaikan Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia, Ruth A. Cussoy Intama di Makassar, (22/5/2026). Menurut Ruth, volume transaksi LCT hingga April 2026 mencapai US$ 22,61 miliar atau melonjak 309% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 7,33 miliar. Selain itu, jumlah pelaku LCT juga terus meningkat menjadi 5.265 pelaku per bulan pada 2026. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan 497 pelaku pada 2021 dan 1.741 pelaku pada 2022.
Menurut Ruth kembali, Cina menjadi negara mitra utama implementasi LCT Indonesia dengan kontribusi transaksi mencapai 89%. Sementara itu, Jepang dan Malaysia masing-masing berkontribusi sebesar 6% dan 3%.
Sebagai informasi, LCT merupakan skema transaksi bilateral menggunakan mata uang lokal masing-masing negara untuk perdagangan, investasi, dan kegiatan usaha tanpa melalui dolar Amerika Serikat (AS) sebagai mata uang perantara. Pada skema itu, transaksi dilakukan melalui bank Appointed Cross Currency Dealers (ACCD). Dengan skema itu, pelaku usaha dapat melakukan pembayaran maupun menerima transaksi langsung menggunakan mata uang lokal seperti rupiah, yuan Cina, yen Jepang, ringgit Malaysia, won Korea Selatan, hingga riyal Saudi.*












