Bandung, CoreNews.id — Kanwil Kemenhaj Jabar terus mendorong para stakeholder (pemangku kepentingan) penyelenggara haji dan umrah, seperti travel, PPIU (Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah), dan KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji), agar memanfaatkan dan melibatkan usaha masyarakat lokal. Terlebih potensi ekonomi dari ekosistem haji dan umrah di Jawa Barat sangat besar. Setiap tahun, jumlah masyarakat Jawa Barat yang melaksanakan ibadah umrah diperkirakan mencapai 400 ribu hingga 600 ribu orang, ditambah sekitar 30 ribu jamaah haji reguler.
Hal tersebut disampaikan Kepala Kanwil Kemenhaj Jawa Barat Boy Hary Novian di Bandung (19/7/2026). Menurut Boy, potensi tersebut perlu dikelola secara optimal agar perputaran ekonomi tidak hanya terjadi di luar negeri, tetapi juga mampu memperkuat perekonomian masyarakat di daerah. Seperti misalnya, berbagai kebutuhan jamaah, seperti sajadah, tasbih, perlengkapan ibadah, hingga produk pangan yang selama ini banyak dipasok dari luar negeri, memiliki peluang besar untuk dikembangkan oleh pelaku usaha lokal.
Mengingat selama ini, triliunan rupiah uang jamaah habis dibelanjakan di Arab Saudi, padahal produk-produk seperti sajadah, tasbih, hingga kebutuhan pangan dipasok dari negara lain. Ke depan, ekosistem ekonomi haji di daerah, bisa benar-benar berjalan secara konsisten dan menguntungkan masyarakat lokal. Selain itu, diharap terjadi sinergi antara pemerintah, penyelenggara perjalanan ibadah, pelaku UMKM, serta masyarakat, sehingga mampu memperkuat rantai ekonomi haji dan umrah guna memberikan manfaat yang lebih luas bagi perekonomian daerah.*













