Jakarta, CoreNews.id — Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 sebesar 5,29% menjadi pertumbuhan yang tertinggal dari sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara. Selain itu, juga melambat dibanding kuartal sebelumnya. Vietnam dan Malaysia dicatat mampu mencatatkan pertumbuhan investasi dua digit. Tanpa investasi yang masuk, sulit bagi Indonesia keluar dari pertumbuhan di bawah 6%.
Hal tersebut disampaikan Kepala Ekonom Maybank Indonesia Juniman di Jakarta, (6/8/2026). Karena itu menurut Juniman, program hilirisasi yang sudah berjalan perlu dilanjutkan dengan industrialisasi yang lebih masif agar mampu menciptakan nilai tambah lebih tinggi. Vietnam, sebagai contohnya, berhasil mendongkrak pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan ekspor produk manufaktur bernilai tambah. Cina juga berhasil mentransformasi ekonominya ke industri berteknologi tinggi, termasuk pengembangan kecerdasan buatan (AI), sehingga produktivitas dan daya saingnya meningkat pesat.
Transformasi-transformasi seperti itu perlu dilakukan Indonesia agar mampu keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah. Hanya saja, transformasi tersebut tidak bisa hanya mengandalkan investasi swasta domestik. Pemerintah harus mampu menarik lebih banyak investasi asing langsung dengan memberikan kepastian usaha dalam jangka panjang, mengingat investasi semacam ini membutuhkan waktu lama untuk menghasilkan keuntungan. Pandangan Juniman tersebut, didukung Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M. Rizal Taufikurahman. Menurutnya, pemberian berbagai insentif saja tidak cukup untuk menarik investor asing. Hal ini karena keputusan investasi langsung lebih banyak ditentukan oleh kepastian hukum, konsistensi regulasi, kualitas tenaga kerja, serta akses pasar.*













