Jakarta, CoreNews,id – Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29 persen pada kuartal II-2026 belum serta-merta membuat kondisi keuangan rumah tangga kelas menengah membaik. Tekanan biaya hidup, cicilan, pendidikan, dan utang konsumtif membuat ruang untuk menabung semakin terbatas.
Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat mengatakan, sebagian pendapatan kelas menengah kini habis untuk memenuhi kebutuhan pokok dan kewajiban bulanan.
“Gaji kelas menengah hari ini sering kali sudah habis bahkan sebelum masuk ke rekening,” kata Achmad dalam keterangannya, Selasa (11/8/2026).
Kelas Menengah Kehilangan Ruang Finansial
Tekanan tersebut terlihat dari perubahan komposisi kelas menengah. Data BPS menunjukkan, jumlah kelas menengah turun dari 57,33 juta orang atau 21,45 persen populasi pada 2019 menjadi 47,85 juta orang atau 17,13 persen pada 2024.
Sementara itu, kelompok menuju kelas menengah meningkat menjadi 137,5 juta orang atau 49,22 persen populasi.
Mandiri Institute memperkirakan jumlah kelas menengah kembali turun menjadi 46,7 juta orang atau sekitar 16,6 persen penduduk pada 2025.
Achmad mengatakan, tekanan daya beli juga tercermin dari rata-rata upah buruh yang mencapai Rp3,39 juta per bulan pada Mei 2026. Di sisi lain, inflasi tahunan Juli 2026 tercatat 2,88 persen.
Utang Konsumtif Makin Membebani
Data Bank Indonesia menunjukkan rata-rata 72,7 persen pendapatan responden digunakan untuk konsumsi. Porsi pembayaran cicilan meningkat menjadi 10,5 persen, sedangkan pendapatan yang disimpan turun menjadi 16,8 persen.
Tekanan juga terlihat dari penggunaan Buy Now Pay Later (BNPL). OJK mencatat baki debet BNPL perbankan mencapai Rp30,7 triliun pada Juni 2026, tumbuh 33,54 persen secara tahunan.
Achmad menilai pemerintah perlu memperkuat perlindungan bagi kelas menengah melalui hunian terjangkau, akses pendidikan berkualitas, pembiayaan rumah yang transparan, serta pengawasan kemampuan bayar pengguna BNPL.
Menurutnya, persoalan kelas menengah tidak hanya berkaitan dengan pendapatan, tetapi juga kemampuan rumah tangga membangun ketahanan finansial di tengah meningkatnya biaya hidup.













