Schneider Electric dan UGM memperluas kemitraan melalui pengembangan talenta, penyelarasan kurikulum, dan pemanfaatan teknologi industri.
Jakarta, CoreNews.id – Schneider Electric bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkuat kemitraan strategis antara dunia industri dan akademia untuk mendukung pengembangan talenta serta transformasi industri berkelanjutan.
Kemitraan tersebut mencakup pengembangan talenta, penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri, penyediaan fasilitas pembelajaran berbasis teknologi, serta peningkatan pengalaman mahasiswa dalam penerapan teknologi di dunia kerja. Program ini melibatkan Fakultas Teknik dan Sekolah Vokasi UGM.
Integrasi Teknologi Industri dalam Kurikulum
Kerja sama ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pada 18 September 2026. Melalui kemitraan tersebut, Schneider Electric dan UGM akan mengembangkan jalur talenta melalui program magang serta mengintegrasikan EcoStruxure Automation Expert (EAE) ke dalam kurikulum pembelajaran UGM.
Schneider Electric juga memberikan technology grant berupa sejumlah peralatan switchgear, termasuk panel SM6 dan PIX dari pabrik Schneider Electric di Cikarang. Peralatan distribusi listrik tegangan menengah itu akan digunakan sebagai sarana pembelajaran dan praktik di laboratorium Fakultas Teknik dan Sekolah Vokasi UGM.
Selain itu, Schneider Electric memberikan kuliah teknis kepada lebih dari 150 mahasiswa dan alumni UGM mengenai teknologi switchgear dan penerapannya di industri. Kegiatan tersebut memberikan wawasan mengenai perkembangan teknologi kelistrikan dan kompetensi yang dibutuhkan di tengah percepatan elektrifikasi, digitalisasi, serta transformasi industri.
President Director Schneider Electric Indonesia & Timor-Leste Martin Setiawan, 24/9/2026, mengatakan kolaborasi tersebut ditujukan untuk memperkuat paparan industri bagi mahasiswa agar memahami penerapan teknologi secara langsung.
Sementara itu, Wakil Rektor UGM Arief Setiawan Budi Nugroho menyebut kolaborasi dengan industri dapat memperkaya proses pembelajaran sekaligus menjaga relevansi pendidikan dengan kebutuhan industri













