CoreNews.id, Jakarta – Nabi Syu’aib adalah seorang nabi yang diutus oleh Allah kepada kaum Madyan. Kaum ini tinggal di daerah yang sekarang termasuk wilayah Yordania dan dikenal sebagai pedagang yang sering melakukan kecurangan dalam takaran dan timbangan. Mereka juga menyembah berhala dan melakukan berbagai bentuk kezaliman.
Sebagai utusan Allah, Nabi Syu’aib mengajak mereka untuk:
- Menyembah Allah dan meninggalkan penyembahan berhala.
- Jujur dalam perdagangan, dengan tidak mengurangi timbangan dan takaran.
- Menghindari perbuatan zalim, baik dalam sosial maupun ekonomi.
Namun, kaum Madyan menolak seruan Nabi Syu’aib. Mereka bahkan mengejek dan mengancamnya. Mereka berkata bahwa Syu’aib hanya seorang manusia biasa dan tidak berhak melarang mereka dari kebiasaan turun-temurun. Bahkan, mereka menantang datangnya azab jika memang mereka bersalah.
Karena keingkaran mereka, Allah menurunkan azab berupa gelombang panas ekstrem, disusul oleh guncangan dahsyat (gempa bumi) yang menghancurkan mereka. Hanya Nabi Syu’aib dan pengikutnya yang selamat.
Pelajaran dari Kisah Nabi Syu’aib
- Kejujuran dalam Berdagang
– Allah melarang kecurangan dalam bisnis, seperti mengurangi timbangan dan takaran. Kejujuran adalah kunci keberkahan dalam usaha. - Kesabaran dalam Dakwah
– Nabi Syu’aib menghadapi banyak tantangan, namun tetap sabar dan tidak menyerah dalam menyampaikan kebenaran. - Jangan Takabur dan Mengabaikan Kebenaran
– Kaum Madyan merasa sombong dan menolak peringatan Nabi Syu’aib. Akibatnya, mereka dihancurkan oleh Allah. - Setiap Perbuatan Akan Dibalas
– Kezaliman dan kecurangan tidak akan dibiarkan tanpa akibat. Allah memberikan azab kepada kaum yang menolak perintah-Nya. - Pentingnya Iman dan Ketakwaan
– Kesuksesan sejati bukan hanya tentang harta dan bisnis, tetapi juga ketaatan kepada Allah.
Kisah Nabi Syu’aib mengajarkan bahwa kejujuran, ketakwaan, dan keadilan adalah prinsip utama dalam kehidupan.