Jakarta, CoreNews.id – Amerika Serikat kembali mengguncang panggung geopolitik global. Dalam operasi militer berisiko tinggi yang disebut-sebut sebagai salah satu aksi paling berani sejak penangkapan Osama bin Laden, AS melancarkan serangan ke Venezuela dan menculik Presiden Nicolas Maduro. Dunia pun terhenyak.
Berikut kronologi lengkap bagaimana operasi ini berlangsung, dampaknya bagi warga sipil, hingga masa depan Venezuela pasca-Maduro.
Operasi Rahasia “Absolute Resolve”: Direncanakan Berbulan-bulan
Menurut laporan Al Jazeera, operasi yang dinamai “Absolute Resolve” telah dipersiapkan selama berbulan-bulan oleh militer dan intelijen AS. Presiden AS Donald Trump mengklaim pasukannya bahkan berlatih di replika bangunan yang identik dengan kediaman Maduro.
Pada Jumat malam, tepat pukul 23.46 waktu setempat, Trump memberikan lampu hijau. Sekitar 150 pesawat tempur lepas landas dari 20 pangkalan udara di berbagai wilayah Belahan Barat.
Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, menyebut operasi ini hanya mungkin dilakukan oleh “penerbang paling terampil di dunia”, memanfaatkan celah cuaca yang sangat sempit.
Caracas Gelap, Ledakan Menggema
Sebagai bagian dari serangan, sistem pertahanan udara Venezuela dilumpuhkan. Trump bahkan mengklaim “lampu-lampu Caracas sebagian besar dipadamkan” berkat keunggulan teknologi AS.
Ledakan keras terdengar di ibu kota dan beberapa negara bagian seperti Miranda, Aragua, dan La Guaira. Menteri Pertahanan AS menyebutnya sebagai operasi gabungan militer dan penegakan hukum besar-besaran yang berlangsung kurang dari 30 menit.
Maduro Ditangkap, Dibawa ke AS
Pada pukul 02.01 dini hari, helikopter AS mendarat di kompleks Maduro di Caracas. Presiden Venezuela dan istrinya, Cilia Flores, kemudian ditahan. Hingga kini belum ada informasi resmi apakah terjadi baku tembak atau perlawanan.
Hanya dua setengah jam kemudian, Maduro sudah berada di atas kapal induk USS Iwo Jima, sebelum diterbangkan ke New York. Trump bahkan mengunggah foto Maduro dalam keadaan dibutakan matanya di media sosial Truth Social.
Korban Jiwa dan Trauma Warga Sipil
Pemerintah Venezuela melaporkan serangan menghantam beberapa wilayah padat penduduk. Meski data resmi belum dirilis, seorang pejabat anonim mengatakan kepada The New York Times bahwa setidaknya 40 orang tewas.
Warga sipil mengalami trauma mendalam. Linda Unamumo, seorang pekerja publik, mengaku rumahnya hancur akibat ledakan.
“Saya sangat ketakutan… saya harus lari bersama anak dan keluarga ke rumah tetangga,” ujarnya.
Trump mengklaim hanya beberapa personel AS yang terluka dan tidak ada korban jiwa dari pihak AS.
Apa Selanjutnya untuk Venezuela?
Dalam konferensi pers, Trump menyatakan AS akan “mengelola Venezuela sementara waktu” hingga pemimpin baru terpilih. Ia bahkan tidak menutup kemungkinan pengerahan pasukan darat.
Menariknya, Trump menolak bekerja sama dengan tokoh oposisi terkenal Maria Corina Machado, dengan alasan kurangnya dukungan internal.
Sementara itu, Mahkamah Agung Venezuela menunjuk Wakil Presiden Delcy Rodriguez sebagai presiden sementara demi menjaga kelangsungan pemerintahan dan kedaulatan negara.
Trump menyatakan AS tidak akan menduduki Venezuela selama Rodriguez “melakukan apa yang kami inginkan.”
Dunia Menunggu Babak Baru Venezuela
Penculikan seorang kepala negara secara langsung oleh kekuatan asing memicu kecaman dan pujian di tingkat global. Legalitas operasi ini pun dipertanyakan, termasuk oleh PBB dan para pakar hukum internasional.
Satu hal pasti: Venezuela memasuki fase paling genting dalam sejarah modernnya, dan dunia kini menanti ke mana arah krisis ini akan berujung.
Sumber: Al Jazeera.com













