Jakarta, CoreNews.id – Iran tengah diguncang gelombang protes besar yang pecah sejak akhir Desember 2025. Awalnya dipicu oleh krisis ekonomi yang kian mencekik, aksi-aksi ini kini berkembang menjadi tantangan terbuka terhadap pemerintahan ulama yang telah berkuasa sejak Revolusi Islam 1979.
Unjuk rasa bermula pada 28 Desember 2025, ketika para pedagang di Grand Bazaar Teheran menutup toko mereka sebagai bentuk protes terhadap melonjaknya harga-harga kebutuhan pokok. Aksi ini dengan cepat menyebar ke berbagai provinsi, mencerminkan keresahan yang meluas di tengah masyarakat.
Mata Uang Anjlok, Harga Melambung
Salah satu pemicu utama kemarahan publik adalah jatuhnya nilai tukar rial ke titik terendah sepanjang sejarah. Pada awal pekan ini, satu dolar AS diperdagangkan di atas 1,4 juta rial—turun drastis dari sekitar 700 ribu setahun sebelumnya.
Dampaknya terasa langsung. Harga pangan rata-rata naik 72 persen dibanding tahun lalu, sementara inflasi tahunan mencapai sekitar 40 persen. Banyak warga mengaku tak lagi mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kalau saja pemerintah tidak hanya fokus pada harga bahan bakar, tapi juga menurunkan harga barang lain,” ujar Majid Ebrahimi, seorang sopir taksi di Teheran. “Harga produk susu naik enam kali lipat tahun ini, dan barang lainnya lebih dari 10 kali.”
Kondisi ekonomi Iran semakin tertekan oleh sejumlah faktor. Perang singkat selama 12 hari melawan Israel pada Juni 2025 menyebabkan kerusakan infrastruktur di beberapa kota. Pada September 2025, PBB kembali memberlakukan sanksi terkait program nuklir Iran. Sementara itu, pemerintah juga menaikkan harga bahan bakar melalui sistem subsidi baru yang mulai berlaku Desember lalu.
Dari Soal Ekonomi ke Tuntutan Politik
Seiring waktu, tuntutan para demonstran tidak lagi semata soal harga dan inflasi. Seruan kini mengarah langsung pada penolakan terhadap pemerintahan ulama. Sejumlah massa bahkan meneriakkan dukungan kepada Reza Pahlavi, putra Shah Iran terakhir yang kini hidup di pengasingan.
Sebagian pendukungnya menyerukan kembalinya sistem monarki, meskipun Pahlavi sendiri lebih condong pada ide referendum untuk menentukan bentuk pemerintahan yang diinginkan rakyat Iran.
Menurut Maryam Alemzadeh, pakar sejarah dan politik Iran dari Universitas Oxford, dukungan terhadap Pahlavi menjadi salah satu fenomena baru dalam gelombang protes kali ini. “Ada teriakan-teriakan dukungan terhadapnya di jalanan Iran,” ujarnya.
Tuntutan demokrasi dan kebebasan sipil sebenarnya telah mengendap lama, terutama sejak kematian Mahsa Amini pada 2022. Perempuan 22 tahun itu meninggal dalam tahanan polisi moral setelah ditangkap karena dianggap melanggar aturan berpakaian.
Protes Meluas hingga Luar Negeri
Aksi protes kini tidak hanya terkonsentrasi di Teheran. Demonstrasi juga terjadi di sejumlah kota seperti Hafshejan, Junqan, dan Taybad. Media pemerintah melaporkan bahwa aparat keamanan membubarkan beberapa aksi tersebut.
Solidaritas juga datang dari diaspora Iran di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Prancis, Turki, dan Pakistan. Mereka menggelar aksi dukungan bagi para demonstran di dalam negeri.
Korban Jiwa dan Internet Terputus
Pemerintah Iran mengklaim lebih dari 100 personel keamanan tewas dalam kerusuhan terbaru. Namun, kelompok oposisi menyebut jumlah korban jauh lebih besar dan mencakup ratusan warga sipil. Angka-angka ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Kekhawatiran semakin meningkat setelah Iran mengalami pemadaman internet selama empat hari berturut-turut. Lembaga pemantau NetBlocks menyebut hal ini sebagai bagian dari upaya sensor digital yang semakin ketat.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan koneksi internet akan segera dipulihkan, termasuk untuk kedutaan dan lembaga pemerintahan.
Ancaman Campur Tangan AS
Presiden AS Donald Trump berulang kali menyatakan bahwa Washington bisa melakukan intervensi militer jika terjadi penindasan berdarah terhadap demonstran. Pernyataan ini ditanggapi keras oleh pemerintah Iran.
Araghchi menuduh bahwa kekerasan sengaja dipicu untuk memberi dalih bagi intervensi asing. Ia juga mengklaim pihaknya memiliki bukti distribusi senjata kepada para demonstran.
Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?
Para pengamat menilai situasi Iran berada di titik kritis. Maryam Alemzadeh memperingatkan bahwa gelombang protes ini berpotensi meningkat jika tuntutan rakyat tidak dipenuhi.
“Reaksi aparat sangat brutal, bahkan melampaui standar represif yang biasa dilakukan Republik Islam,” katanya. “Namun, keluhan rakyat tidak akan mereda kali ini.”
Ia menambahkan, meskipun gelombang ini berhasil ditekan, potensi pemberontakan baru tetap besar. “Perubahan radikal tampaknya tak terhindarkan—entah dari dalam elite politik, atau akibat intervensi asing yang justru bisa membawa kekacauan baru.”
Sumber: Al Jazeera.com













