Jakarta, CoreNews.id – GELAGAT perang teknologi semakin panas! Otoritas China baru saja melancarkan pukulan keras dengan melarang perusahaan-perusahaan domestik menggunakan perangkat lunak keamanan siber buatan lebih dari selusin perusahaan AS dan Israel. Alasannya klise tapi mematikan: DEMI KEAMANAN NASIONAL.
Langkah radikal ini adalah bukti nyata ketegangan makin memuncak antara Beijing dan Washington. Ini bukan lagi sekadar perang dagang, ini perang kedaulatan data dan supremasi teknologi! China geram dan tak mau ambil risiko lagi. Mereka khawatir software asing itu jadi “mata-mata digital” yang mengirim data rahasia keluar negeri.
Daftar Hitam Panjang, Saham Terjun Bebas
Siapa saja korbannya? Daftarnya mengerikan dan diisi raksasa-raksasa keamanan siber dunia:
- Dari AS: VMware (Broadcom), Palo Alto Networks, Fortinet, Mandiant (Alphabet), CrowdStrike, SentinelOne, McAfee, dan Rapid7.
- Dari Israel: Check Point Software Technologies, CyberArk, Orca Security, dan Cato Networks.
Reaksi pasar? SAHAM-HANCUR! Saham Broadcom anjlok lebih dari 4%, Fortinet merosot 2%. Ini tamparan telak bagi industri yang selama ini dianggap paling “netral”.
“Kami Tidak Jual ke China!” Kata Mereka
Yang menarik, banyak perusahaan yang disebut justru bingung. CrowdStrike, SentinelOne, dan Claroty serentak berteriak: “Kami bahkan tidak berbisnis di China!” Mereka klaim tidak punya karyawan, kantor, atau infrastruktur di sana.
Tapi China punya alasan lain. Beberapa perusahaan dalam daftar hitam, seperti Check Point dan Palo Alto, rutin menerbitkan laporan yang menuduh China melakukan operasi peretasan. “Ini balas dendam?” tanya banyak pengamat.
Mendorong “Teknologi Dalam Negeri”, Perang Sudah di Depan Mata
Larangan ini bukan kejutan. Ini bagian dari gerakan besar “ganti impor” China. Beijing mati-matian mendorong penggunaan teknologi domestik, dari chip sampai software. Penyedia lokal seperti 360 Security Technology dan Neusoft pasti diuntungkan.
Ini juga jadi peringatan untuk semua: di era digital, keamanan siber adalah senjata. Software yang bisa mengakses jaringan perusahaan adalah alat mata-mata potensial. AS sendiri pernah melarang Kaspersky asal Rusia dengan alasan serupa.
Dengan kunjungan Donald Trump ke Beijing bulan depan, langkah ini seperti meriam pertama sebelum pertempuran. China jelas menyiapkan perisai digitalnya. Pesannya keras: “Data kami, aturan kami.”
Pertanyaannya sekarang: akankah Barat membalas? Dan apa dampaknya bagi perusahaan global yang terjebak di tengah?












