Jakarta, CoreNews.id – Nilai tukar rupiah hampir menembus level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada penutupan perdagangan Senin (19/1), rupiah tercatat melemah ke posisi Rp16.955 per dolar AS, turun 68 poin atau 0,40 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Meski demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tetap optimistis rupiah akan segera berbalik menguat. Saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, ia menegaskan bahwa pergerakan nilai tukar sangat bergantung pada fundamental ekonomi suatu negara.
Dalam konteks Indonesia, Purbaya menilai kondisi ekonomi masih cukup kuat dan resilien. Salah satu indikatornya terlihat dari pergerakan pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin sore ditutup di level tertinggi sepanjang sejarah atau All Time High (ATH) di posisi 9.133,87.
“IHSG All Time High, kan? Kalau indeks naik, pasti ada aliran asing masuk ke situ juga. Nggak mungkin masuk sendiri yang bisa mendorong ke level seperti itu. Jadi, ini tinggal tunggu waktu saja rupiahnya menguat, karena suplai dolar akan bertambah,” ujar Purbaya, 19/1/2026, dikutip dari pemberitaan sejumlah media nasional.
Ia juga membantah anggapan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh wacana penunjukan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Menurutnya, isu tersebut berkembang karena adanya kekhawatiran bahwa bank sentral akan kehilangan independensi.
“Orang berspekulasi ketika Thomas ke sana, independensi BI hilang. Saya pikir nggak akan begitu,” tegasnya.
Purbaya memastikan pemerintah akan terus menjaga fondasi ekonomi nasional, termasuk mengakselerasi pertumbuhan, agar rupiah segera kembali menguat.
Sementara itu, pengamat pasar mata uang dan aset digital, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah juga dipengaruhi sentimen global. Salah satunya adalah ancaman Presiden AS Donald Trump yang berencana mengenakan tarif impor sebesar 10 persen terhadap delapan negara Eropa.
Trump bahkan mengancam akan menaikkan tarif hingga 25 persen pada Juni mendatang jika tidak ada kesepakatan yang tercapai. Negara yang menjadi sasaran antara lain Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia.
Kebijakan tersebut menuai kritik dari pejabat Eropa dan memicu kekhawatiran akan eskalasi perang dagang. Dewan Eropa bahkan dijadwalkan menggelar pertemuan luar biasa untuk membahas dampak kebijakan tersebut.
Selain itu, keraguan pasar terhadap rencana pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve turut memberi tekanan pada rupiah. Investor kini memperkirakan pemotongan suku bunga baru akan terjadi pada Juni dan September, lebih lambat dari perkiraan sebelumnya.
Data Bank Indonesia melalui kurs JISDOR juga mencatat rupiah melemah ke level Rp16.935 per dolar AS.













