Jakarta, CoreNews.id – Seiring percepatan digitalisasi layanan industri keuangan, risiko kejahatan di sektor ini juga meningkat. Transformasi pembayaran yang semakin cepat ternyata diikuti evolusi modus pelaku kejahatan yang kian kompleks dan sulit dideteksi.
Temuan tersebut dipaparkan dalam laporan terbaru Visa bertajuk Biannual Threats Report: Five Forces Reshaping Payment Security in 2025. Laporan itu menyoroti bagaimana lanskap keamanan pembayaran global berubah drastis, termasuk di kawasan Asia Pasifik.
Head of Risk Regional Southeast Asia Visa Abdul Rahim menuturkan, tantangan di Asia Pasifik relatif lebih besar dibandingkan kawasan lain. Pasalnya, metode pembayaran di kawasan ini jauh lebih beragam dan terfragmentasi.
“Di negara lain, masih banyak pengguna kartu untuk pembayaran. Tapi di Asia Pasifik lebih terfragmentasi, ada banyak metode pembayaran,” ujar Rahim, 4/2/2026.
Keragaman tersebut membuat pelaku industri keuangan harus memiliki lebih banyak pendekatan untuk mendeteksi potensi kejahatan. Setiap instrumen pembayaran membutuhkan protokol perlindungan yang berbeda, sehingga sistem keamanan harus dirancang lebih adaptif.
Infrastruktur Kejahatan Berskala Industri
Visa menemukan, jaringan kriminal kini tidak lagi beroperasi secara sederhana. Mereka menggunakan infrastruktur sistematis berskala industri, mulai dari botnet, skrip otomatis, hingga alat berbasis kecerdasan buatan (AI).
Dalam laporan tersebut disebutkan, pelaku kejahatan memanfaatkan AI untuk menciptakan berbagai konten palsu yang tampak meyakinkan. Mulai dari situs merchant palsu, identitas fiktif, agen layanan pelanggan gadungan, hingga dokumen kepatuhan palsu yang sulit dibedakan dari yang asli.
Kondisi ini membuat metode mitigasi tradisional yang mengandalkan pemeriksaan visual menjadi kurang efektif. Teknologi manipulasi digital kini mampu menghasilkan tampilan yang nyaris sempurna.
Menyerang Emosi dan Perilaku Nasabah
Tak hanya memanfaatkan teknologi, pelaku kejahatan juga menyasar sisi psikologis korban. Penipuan berbasis percintaan (romance scam) dan investasi bodong menjadi contoh nyata.
Dalam kasus tersebut, pelaku mengeksploitasi emosi, rasa percaya, bahkan keserakahan korban untuk memperoleh keuntungan finansial. Serangan semacam ini tidak hanya memanfaatkan celah sistem, tetapi juga kelemahan perilaku manusia.
“Para penipu sebenarnya menyerang perilaku manusia. Jadi penting bagi industri untuk berkolaborasi dalam melanjutkan kampanye edukasi pelanggan untuk mengingatkan konsumen tentang semua faktor serangan baru ini,” kata Rahim.
Melawan AI dengan AI
Untuk menghadapi ancaman tersebut, industri keuangan dinilai perlu meningkatkan kemampuan teknologinya. Pendekatan konvensional dinilai tidak lagi memadai.
“Pada dasarnya kita perlu melawan AI dengan AI,” ujar Rahim.
Di Visa, AI disebut telah menjadi fondasi utama dalam mitigasi penipuan. Model kecerdasan buatan yang dikembangkan menganalisis ratusan sinyal secara real-time guna mengidentifikasi potensi transaksi mencurigakan sebelum kerugian terjadi.
Model tersebut membantu institusi keuangan mendeteksi pola anomali secara cepat dan presisi, sekaligus memperkecil risiko kerugian nasabah.
Dengan meningkatnya kecanggihan pelaku kejahatan, kolaborasi antara industri, regulator, dan masyarakat menjadi kunci. Selain penguatan teknologi, literasi keuangan digital bagi masyarakat luas juga menjadi benteng pertahanan penting agar nasabah tidak mudah terjebak dalam berbagai modus penipuan baru.













