Jakarta, CoreNews.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk bersiap menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering dan berlangsung lebih panjang dari kondisi normal. Peringatan ini disampaikan seiring meningkatnya potensi fenomena El Niño pada paruh kedua tahun ini.
Hingga akhir Maret 2026, BMKG mencatat sekitar 7 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Wilayah tersebut meliputi sebagian Aceh, Sumatra Utara, Riau, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua Barat.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan jumlah wilayah yang memasuki musim kemarau akan meningkat signifikan pada periode April hingga Juni 2026. “Masyarakat diharapkan terus mengikuti informasi resmi BMKG sebagai acuan mitigasi,” ujar Faisal di Jakarta, Senin (6/4/2026).
BMKG memperkirakan sebanyak 114 ZOM akan mengalami kemarau pada April, meningkat menjadi 184 ZOM pada Mei, dan 163 ZOM pada Juni. Kemarau diprediksi mulai dari wilayah Nusa Tenggara sebelum meluas ke berbagai daerah lainnya.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, saat ini kondisi ENSO dan Indian Ocean Dipole masih netral. Namun, hasil pemodelan menunjukkan peluang terbentuknya El Niño dengan intensitas lemah hingga moderat mencapai 50 hingga 80 persen.
Meski demikian, BMKG mengingatkan adanya fenomena spring predictability barrier yang membuat akurasi prediksi pada Maret hingga Mei perlu dicermati secara hati-hati.
BMKG menegaskan puncak musim kemarau 2026 diperkirakan terjadi pada Agustus, dengan sebagian besar wilayah mengalami curah hujan di bawah normal.
Untuk itu, pemerintah daerah, sektor pertanian, serta masyarakat diminta meningkatkan kesiapsiagaan, terutama dalam pengelolaan air dan mitigasi kekeringan.
Informasi lengkap dapat diakses melalui laman resmi BMKG.













