Jakarta, CoreNews.id – Perusahaan keamanan siber Kaspersky mengungkapkan telah memblokir lebih dari 18 juta serangan web yang menargetkan pengguna bisnis di Asia Tenggara (SEA) sepanjang 2025. Data ini menunjukkan ancaman siber berbasis internet masih menjadi risiko utama bagi organisasi di kawasan dengan pertumbuhan ekonomi digital yang pesat.
Berdasarkan laporan tersebut, Vietnam mencatat jumlah serangan tertinggi dengan 8.437.695 deteksi. Posisi berikutnya ditempati Malaysia dengan 3.361.453 insiden dan Indonesia dengan 3.014.870 serangan. Sementara itu, Singapura dan Thailand juga mengalami lebih dari satu juta serangan sepanjang tahun.
Ancaman berbasis web mencakup berbagai bentuk serangan, mulai dari situs yang diretas, unduhan berbahaya, hingga eksploitasi celah keamanan yang memungkinkan akses tidak sah ke sistem perusahaan. Serangan ini berpotensi menyebabkan kebocoran data, gangguan operasional, hingga penyalahgunaan jaringan internal.
Managing Director Asia Pasifik Kaspersky, Adrian Hia, 14/4/2026, menyebut bahwa meskipun jumlah total serangan secara kuantitatif menurun, kompleksitas dan target serangan justru meningkat, terutama di negara seperti Singapura dan Vietnam. Menurut dia, hal ini berkaitan dengan meningkatnya kesadaran dan investasi perusahaan terhadap keamanan siber.
Fenomena ini juga sejalan dengan pertumbuhan ekonomi digital Asia Tenggara yang diperkirakan mencapai nilai US$1 triliun pada 2030. Seiring meningkatnya aktivitas daring, risiko serangan siber pun ikut berkembang, baik dari sisi metode maupun skalanya.
Untuk mengurangi risiko, Kaspersky mendorong perusahaan memperbarui sistem secara berkala, menggunakan autentikasi dua faktor, serta mengadopsi solusi keamanan terintegrasi seperti managed detection and response (MDR) dan extended detection and response (XDR).
Langkah tersebut dinilai penting agar organisasi mampu menghadapi lanskap ancaman siber yang semakin kompleks di era transformasi digital.













