Jakarta, CoreNews.id – Industri perhotelan global tengah memasuki fase disrupsi baru. Bukan lagi sekadar persaingan harga atau lokasi, tetapi soal siapa yang paling cepat beradaptasi dengan kecerdasan buatan (AI) sebagai pintu utama pencarian dan pemesanan hotel.
SiteMinder, platform hotel commerce global, menangkap momentum ini dengan memperluas distribusi hotel ke ekosistem AI—langkah yang secara tidak langsung menekan relevansi kanal distribusi konvensional seperti metasearch dan bahkan sebagian online travel agency (OTA).
Dengan lebih dari 53.000 hotel di 150 negara dalam jaringannya, SiteMinder kini membuka akses inventaris hotel ke platform berbasis AI seperti ChatGPT dan Claude. Di ruang ini, wisatawan tidak lagi sekadar membandingkan harga, tetapi mendapatkan rekomendasi yang dipersonalisasi, harga real-time, hingga opsi pemesanan instan dalam satu alur percakapan.
CEO SiteMinder, Sankar Narayan, menegaskan bahwa perubahan ini bukan tren sementara.
“Penemuan hotel kini bergerak ke arah AI. Artinya, hotel harus hadir di setiap titik penemuan baru ini atau berisiko kehilangan permintaan,” ujarnya, 16/4/2026.
Menggeser Peran Kanal Lama
Langkah SiteMinder memperluas Demand Plus ke ekosistem AI menunjukkan pergeseran dari model metasearch tradisional—yang selama ini didominasi Google, Trivago, dan TripAdvisor—menuju pencarian berbasis percakapan.
Dalam model baru ini, keputusan pengguna tidak lagi bergantung pada daftar panjang pilihan, melainkan pada rekomendasi yang disaring algoritma AI. Ini berpotensi mengurangi visibilitas hotel yang tidak terintegrasi dalam sistem tersebut.
Di sisi lain, melalui Channels Plus, SiteMinder juga membuka pintu bagi OTA berbasis AI untuk mengakses inventaris hotel secara langsung. Artinya, perantara baru bermunculan—bukan lagi sekadar platform booking, tetapi mesin rekomendasi yang mengontrol jalur permintaan.
DirectBooker, mitra AI pertama SiteMinder, menjadi contoh bagaimana pemain baru dapat masuk dan mengambil peran strategis dalam rantai distribusi.
Tekanan Adaptasi bagi Hotel
Data Changing Traveller Report 2026 memperkuat urgensi ini: delapan dari sepuluh wisatawan kini menginginkan bantuan AI dalam proses pemesanan.
Angka ini menunjukkan bahwa perilaku konsumen telah berubah lebih cepat daripada kesiapan banyak pelaku industri.
Bagi hotel, implikasinya jelas: tidak cukup hanya hadir di OTA atau mengandalkan SEO. Mereka kini harus memastikan data, harga, dan ketersediaan kamar dapat diakses secara real-time oleh sistem AI.
“Jika hotel tidak muncul dalam ekosistem ini, mereka praktis tidak terlihat,” kata Norman Arundel dari EVT, grup hotel internasional.
Perebutan Kontrol Distribusi
Di balik inovasi ini, tersimpan pertarungan yang lebih besar: siapa yang mengendalikan jalur distribusi hotel di era AI.
Dengan Model Context Protocol (MCP), SiteMinder memungkinkan platform AI mengakses data hotel secara langsung. Ini berpotensi mengurangi ketergantungan pada perantara tradisional, sekaligus memberi ruang bagi pemain teknologi untuk mengambil alih peran distribusi.
Namun, di sisi lain, ketergantungan pada AI juga membuka risiko baru—mulai dari bias algoritma hingga dominasi platform tertentu dalam menentukan visibilitas hotel.
Era Baru Dimulai
Perluasan yang dilakukan SiteMinder menegaskan satu hal: distribusi hotel tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki listing terbanyak, tetapi oleh siapa yang menguasai ekosistem AI.
Bagi industri perhotelan, ini bukan sekadar evolusi teknologi, melainkan pergeseran fundamental dalam cara permintaan diciptakan dan dikonversi.
Hotel yang gagal beradaptasi berisiko tertinggal—bukan karena kalah bersaing, tetapi karena tidak lagi muncul dalam percakapan yang kini dikendalikan oleh mesin.













