Jakarta, CoreNews.id – Anggota Komisi VI DPR RI Asep Wahyuwijaya menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi sebagai langkah menjaga keberlanjutan fiskal dan kesehatan sektor energi nasional. Namun, ia mengingatkan agar dampaknya tidak membebani masyarakat kecil.
“Perhatian utama harus diarahkan pada dampak kenaikan tersebut agar tidak membebani masyarakat kecil dan sektor produktif,” ujarnya, Minggu (19/4/2026).
Ia juga meminta PT Pertamina (Persero) tidak hanya berfungsi komersial, tetapi menjadi jangkar stabilitas energi. Keseimbangan antara efisiensi bisnis dan tanggung jawab publik dinilai krusial di tengah ketidakpastian global.
Asep menyoroti potensi efek berantai kenaikan harga, mulai dari biaya logistik, tarif transportasi, hingga tekanan terhadap pelaku usaha kecil, petani, dan nelayan yang dapat memicu inflasi.
Penyesuaian harga dilakukan Pertamina per 18 April 2026 mengikuti dinamika pasar energi global. Sejumlah BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo dan Dexlite mengalami kenaikan, sementara Pertamax dan BBM subsidi tetap.













