Jakarta, CoreNews.id – Jobstreet by SEEK memperkenalkan dua inovasi terbaru, Personalised Targeting dan Assist. Keduanya dirancang untuk membantu perusahaan menjangkau kandidat yang lebih relevan, memandu proses rekrutmen, sekaligus mengurangi pekerjaan administratif dan repetitif.
Dengan dukungan AI, otomasi, dan integrasi khusus untuk alur rekrutmen, perekrut dapat mengelola berbagai proses dalam satu platform, mulai dari menjangkau kandidat, mengelola lamaran dan shortlist, pemeriksaan referensi, hingga wawancara awal berbasis suara. Langkah ini memberi lebih banyak ruang bagi perekrut untuk berinteraksi dengan kandidat dan mengambil keputusan.
Managing Director – Indonesia, Jobstreet by SEEK, Wisnu Dharmawan, mengatakan rekrutmen bukan hanya tentang menemukan kandidat, tetapi juga membangun koneksi dan mengambil keputusan yang tepat.
“Assist membantu menangani pekerjaan rutin dan memberikan rekomendasi langkah berikutnya, sementara perekrut tetap memegang kendali atas keputusan,” ujar Wisnu.
Kehadiran dua inovasi ini merupakan bagian dari transformasi Jobstreet by SEEK sejak 2023. Pada 2023, platform SEEK disatukan secara global untuk menghubungkan kandidat dan perusahaan di kawasan Asia-Pasifik. Pada 2024, akses iklan lowongan kerja gratis dibuka melalui model freemium. Pada 2025, teknologi AI matching dioptimalkan untuk membantu perusahaan menemukan kandidat yang lebih tepat. Tahun ini, transformasi berlanjut dengan integrasi alur kerja rekrutmen melalui Personalised Targeting dan Assist.
Personalised Targeting mempelajari kebutuhan dan pola rekrutmen setiap perusahaan. Sistem memanfaatkan informasi seperti preferensi, kriteria kandidat, aktivitas pencarian, shortlist, dan riwayat perekrutan untuk menjangkau kandidat melalui email, rekomendasi, dan push notification.
Fitur ini juga dapat mengenali kandidat “Likely Interested” atau “Mungkin Berminat”. Sekitar tujuh hari setelah iklan ditayangkan, sistem dapat mengidentifikasi kandidat yang belum melamar tetapi menunjukkan sinyal ketertarikan, seperti menyimpan iklan.
Kandidat tersebut memiliki kemungkinan hingga lima kali lebih besar untuk melamar ketika dihubungi secara proaktif oleh perusahaan. Dengan kemampuan ini, perekrut dapat memprioritaskan kandidat yang paling berpotensi.
Sementara itu, Assist hadir sebagai mitra rekrutmen always-on berbasis agentic AI. Fitur ini memberikan rekomendasi tindakan, seperti memasukkan kandidat ke shortlist, memperbaiki bagian tertentu dari iklan, atau memulai pemeriksaan referensi.
Assist juga menyusun shortlist berdasarkan kriteria spesifik perusahaan dan memberikan penjelasan kontekstual mengenai alasan kandidat dianggap sesuai. Pemeriksaan referensi dapat dilakukan secara otomatis dan terintegrasi. Sementara AI Voice Pre-screen menjalankan wawancara awal berbasis suara mengenai pengalaman, motivasi, kesiapan, dan pertanyaan terkait posisi.
Meski AI menangani pekerjaan rutin, keputusan akhir tetap berada di tangan tim HR. Teknologi ini diarahkan untuk mengurangi beban administratif agar perekrut dapat lebih fokus memahami kandidat, membangun hubungan, dan mengambil keputusan strategis.
“Dengan berkurangnya waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan administratif dan repetitif, tim rekrutmen dapat kembali berfokus pada hal yang paling penting: memahami kandidat, membangun hubungan, dan menghadirkan pengalaman rekrutmen yang lebih manusiawi,” kata Wisnu.













