Nilai transaksi aset kripto di Bursa CFX mencapai Rp22,1 triliun pada September 2026. Bursa ini memangkas biaya transaksi sebesar 50 persen untuk mendorong aktivitas perdagangan.
Jakarta, CoreNews.id – Pasar kripto Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada kuartal III 2026 setelah mengalami koreksi pada semester pertama. Nilai transaksi perdagangan di Bursa Kripto CFX meningkat selama tiga bulan berturut-turut, dari Rp15,2 triliun pada Juli menjadi Rp17,6 triliun pada Agustus dan Rp22,1 triliun pada September.
Pemulihan tersebut juga terlihat pada perdagangan derivatif aset kripto. Nilai transaksinya naik dari Rp3,75 triliun pada Juli menjadi Rp5,98 triliun pada Agustus, lalu mencapai Rp7,32 triliun pada September 2026.
Di tengah perkembangan itu, CFX menurunkan biaya transaksi bursa sebesar 50 persen, dari 0,02 persen menjadi 0,01 persen per transaksi, mulai 1 Oktober 2026. Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan aktivitas perdagangan dan likuiditas pasar aset kripto domestik.
Jumlah Konsumen Terus Bertambah
Direktur Utama Bursa Kripto CFX, Subani, 13/10/2026, mengatakan pemulihan pada kuartal ketiga menjadi sinyal positif bagi perdagangan aset kripto, baik di pasar spot maupun derivatif.
Menurut dia, momentum tersebut diharapkan berlanjut sehingga industri aset kripto nasional dapat tumbuh lebih kuat.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah akun konsumen aset kripto mencapai 22,93 juta per Juli 2026. Angka ini meningkat 39 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Regulasi dan Infrastruktur Jadi Penopang
CFX menilai perkembangan regulasi turut membuka peluang bagi industri aset kripto, termasuk melalui pengembangan produk turunan. Setelah Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 disahkan, perusahaan menyatakan siap mendukung pertumbuhan pasar melalui penyediaan infrastruktur perdagangan yang andal.
Sebagai bursa aset kripto yang berizin dan diawasi OJK, CFX juga menekankan pentingnya perdagangan yang teratur, wajar, dan efisien.
Subani berharap penurunan biaya transaksi, dukungan regulasi, serta pertumbuhan jumlah konsumen dapat memperkuat ekosistem aset kripto Indonesia secara berkelanjutan. Meski demikian, pemulihan nilai transaksi belum dengan sendirinya menjamin tren kenaikan akan terus berlanjut.













