Corenews.id
No Result
View All Result
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Daerah
  • Politik
    • Pemilu
  • Hukum
  • Pariwara
  • Bisnis
    • Keuangan
    • Ekonomi
    • Properti
    • Pasar Modal
  • Tekno
  • Gaya Hidup
  • Humaniora
  • Olah Raga
  • Tokoh
  • Opini
Corenews.id
No Result
View All Result

Janji Tinggal Janji? Laporan 2025 Bongkar Merek Dunia Masih Terlibat Deforestasi dan Pelanggaran HAM

by Teguh Imam Suyudi
11 Januari 2026 | 20:00
in News
merek-dunia-gagal-hentikan-deforestasi-pelanggaran-ham-2025

Deforestasi Aceh Timur 2025 (Foto: Dok. Rainforest Action Network) (RAN)

Bagikan sekarang:

Jakarta, CoreNews.id – Janji perusahaan-perusahaan merek global untuk menghentikan deforestasi dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) ternyata masih sebatas slogan. Laporan terbaru Keep Forests Standing 2025 dari Rainforest Action Network (RAN) mengungkap, upaya yang dilakukan merek-merek raksasa dunia masih lamban dan jauh dari kata memadai.

Padahal, mereka tengah bersiap menghadapi implementasi penuh Regulasi Produk Bebas Deforestasi Uni Eropa (EUDR). Demi meyakinkan investor, banyak perusahaan sudah mengumbar komitmen hijau. Namun, di lapangan, komitmen itu dinilai lemah karena hanya mengandalkan sertifikasi yang dinilai tidak efektif, seperti RSPO, atau laporan mandiri dari pemasok yang selama ini bermasalah.

Akibatnya, sejumlah merek besar dunia masih berisiko terhubung dengan praktik perusakan hutan dan pelanggaran HAM.

“Perusahaan-perusahaan ini tahu bahwa sertifikasi saja tidak cukup. Masalahnya bukan kurangnya informasi, tapi kurangnya kepemimpinan,” kata Daniel Carrillo, Direktur Kampanye Hutan Rainforest Action Network, dalam siaran pers, 10/12/2025.

Menurut Carrillo, sebelum hutan benar-benar dihancurkan, masyarakat yang tinggal di dalamnya sering lebih dulu menghadapi intimidasi, kekerasan, bahkan perampasan tanah.

10 Merek Dunia Disorot

Penilaian Keep Forests Standing mengevaluasi 10 perusahaan besar: Colgate-Palmolive, Ferrero, Kao, Mars, Mondelēz, Nestlé, Nissin Foods, PepsiCo, Procter & Gamble, dan Unilever.

Mereka dinilai berdasarkan 12 indikator, mulai dari kebijakan Nol Deforestasi, Nol Gambut, Nol Eksploitasi (NDPE), perlindungan HAM, hingga transparansi rantai pasok.

Salah satu indikator paling krusial tahun ini adalah perlindungan terhadap Pembela Hak Asasi Manusia (Human Rights Defenders/HRD).

Data Business and Human Rights Resource Center mencatat, sepanjang 2015–2024 terjadi lebih dari 6.400 serangan, termasuk lebih dari 1.000 pembunuhan, terhadap pembela HAM di 147 negara.

READ  Kecelakaan Maut Mobil K-9, Polda Kalsel Bertanggung Jawab Penuh

Masih Banyak yang Setengah Hati

Unilever menjadi perusahaan pertama yang menerbitkan kebijakan perlindungan HRD pada 2022. Sementara itu, Procter & Gamble, Colgate-Palmolive, PepsiCo, dan Nestlé telah berkomitmen untuk tidak mentolerir intimidasi dan kekerasan terhadap pembela HAM.

Namun, RAN menilai, banyak dari komitmen ini belum benar-benar diterjemahkan menjadi prosedur nyata.

Salah satu yang disorot adalah Mondelēz, produsen biskuit Oreo. Perusahaan ini menjadi yang terendah skornya secara keseluruhan dan satu-satunya yang mendapat nilai nol dalam kriteria kebijakan perlindungan pembela HAM.

Masyarakat Adat Masih Rentan

Laporan ini juga menyoroti kegagalan perusahaan dalam menerapkan prinsip PADIATAPA (FPIC) atau Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan dari masyarakat adat.

Tak satu pun perusahaan memiliki proses konsisten untuk memastikan hak masyarakat adat dihormati sebelum lahan dibuka.

Beberapa perusahaan memang mulai terlibat dalam program lanskap di Indonesia, Brasil, dan Kolombia. Namun, RAN menegaskan bahwa program ini tidak bisa menggantikan kebijakan dan prosedur yang kuat.

Tanpa proses FPIC yang jelas, konflik lahan, penggusuran paksa, dan kekerasan terhadap pembela HAM akan terus terjadi.

Ada yang Mulai Berbenah

Meski begitu, tidak semua kabar buruk. Unilever masih dianggap memimpin sektor ini dengan kebijakan NDPE yang paling komprehensif. PepsiCo kini punya pelacak keluhan publik, sementara Nestlé mulai meningkatkan transparansi.

Namun, celah besar masih ada.

“Jika merek-merek terbesar dunia tidak bisa membuktikan produk mereka bebas dari deforestasi dan pelanggaran HAM, maka janji-janji itu tak berarti apa-apa,” tegas Carrillo.

Tags: Deforestasihak asasi manusiaLingkungan HidupRainforest Action Network
Previous Post

Siap Hadapi Tantangan Global! Rakernas PMSM Indonesia Siapkan Strategi Unggul SDM 2025–2028

Next Post

PGE Perketat Pengawasan Proyek Panas Bumi Lahendong, Dorong Keandalan Energi Bersih Nasional

Next Post
pge-perketat-pengawasan-panas-bumi-lahendong

PGE Perketat Pengawasan Proyek Panas Bumi Lahendong, Dorong Keandalan Energi Bersih Nasional

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PARIWARA

Transformasi Digital Konsisten, Hanwha Life Raih TOP Digital Awards 2025 Level Stars 5

Transformasi Digital Konsisten, Hanwha Life Raih TOP Digital Awards 2025 Level Stars 5

22 Desember 2025 | 17:00
Perumda Air Minum Kota Padang TOP Digital Awards 2025

Mengalirkan Inovasi, Menyemai Layanan: Perumda Air Minum Kota Padang Kembali Raih TOP Digital Awards

5 Desember 2025 | 09:00
Pacu Transformasi Digital Nasional, Rumah Pendidikan Kemendikdasmen Raih Penghargaan TOP Digital Awards

Pacu Transformasi Digital Nasional, Rumah Pendidikan Kemendikdasmen Raih Penghargaan TOP Digital Awards

5 Desember 2025 | 08:00
RSUI Raih Penghargaan TOP Digital Awards

Perkuat Transformasi Digital untuk Tingkatkan Mutu Layanan, RSUI Raih Penghargaan TOP Digital Awards

5 Desember 2025 | 07:00
Moratelindo Transformasi Digital TOP Digital Awards

Moratelindo Perkuat Kepemimpinan Transformasi Digital Lewat Dua Penghargaan Nasional TOP Digital Awards

5 Desember 2025 | 06:00
Acara Puncak TOP Digital Awards 2025 Digelar Hari Ini: Inovasi Cerdas Menyongsong Transformasi Digital

Acara Puncak TOP Digital Awards 2025 Digelar Hari Ini: Inovasi Cerdas Menyongsong Transformasi Digital

4 Desember 2025 | 06:00

POPULER

Guru Besar UIN Jakarta Minta Sarjana Muslim jadi Agen Peradaban

Guru Besar UIN Jakarta Minta Sarjana Muslim jadi Agen Peradaban

11 Januari 2026 | 15:08
Ilustrasi Nasi Putih

Nasi Putih Sisa Masih Aman Dikonsumsi, Asal Tahu Cara Menyimpannya

19 April 2025 | 09:00
kuhp-kuhap-baru-berlaku-2-januari-2026

Resmi Berlaku! KUHP dan KUHAP Baru Efektif Mulai 2 Januari 2026, Ini Pasal-Pasal yang Paling Disorot

1 Januari 2026 | 10:00
Profil Darma Mangkuluhur, Anak Sulung Tommy Soeharto

Profil Darma Mangkuluhur, Anak Sulung Tommy Soeharto

22 April 2024 | 16:06
Jokowi Buka Inacraft 2023, Pameran Kerajinan Terbesar di Asia Tenggara

Jokowi Buka Inacraft 2023, Pameran Kerajinan Terbesar di Asia Tenggara

4 Oktober 2023 | 11:00
merek-dunia-gagal-hentikan-deforestasi-pelanggaran-ham-2025

Janji Tinggal Janji? Laporan 2025 Bongkar Merek Dunia Masih Terlibat Deforestasi dan Pelanggaran HAM

11 Januari 2026 | 20:00
  • Redaksi Corenews.id
  • Pedoman Media Siber
  • Email Login

Corenews.id | All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Daerah
  • Politik
    • Pemilu
  • Hukum
  • Pariwara
  • Bisnis
    • Keuangan
    • Ekonomi
    • Properti
    • Pasar Modal
  • Tekno
  • Gaya Hidup
  • Humaniora
  • Olah Raga
  • Tokoh
  • Opini

Corenews.id | All Rights Reserved