Jakarta, CoreNews.id — Pada akhir tahun 2025, sejumlah insentif impor berakhir. Insentif impor selanjutnya hanya dialokasikan bagi produsen yang memiliki komitmen manufaktur di Indonesia. Dicatat ada tujuh pabrikan yang membangun fasilitas produksi lokal, yaitu VinFast, Volkswagen (VW), BYD, Citroen, AION, Maxus, dan Geely. Berakhirnya subsidi impor tersebut, menjadi momentum Transformasi Indonesia menjadi salah satu produsen kendaraan listrik global.
Hal tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Center of Energy Policy (CEP), Kholid Syeirozi di Jakarta, (15/01/2026). Menurut Kholid, kondisi ekonomi makro saat ini diharapkan dapat terus stabil agar mendukung tren industrialisasi ini semakin baik. Jika daya beli masyarakat terjaga, permintaan akan tetap tumbuh, dana akan memperkuat industri hulu hingga hilir yang menjadi penopang dari kendaraan listrik.
Sebagai informasi, pemerintah melalui Indonesia Battery Corporation (IBC) Anggota dari Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID terus memperkuat integrasi ekosistem baterai kendaraan listrik. Salah satunya melalui proyek konsorsium ANTAM–IBC–CBL di Halmahera Timur dan Karawang.
Terkait hal tersebut pula, Head of Transportation and Sustainable Mobility Institute for Essential Services Reform (IESR) Faris Adnan menegaskan bila keberadaan pabrik baterai domestik merupakan syarat mutlak terbentuknya ekosistem EV nasional. Agar produk baterai Indonesia kompetitif di pasar global, penerapan standar Initiative for Responsible Mining Assurance menjadi bagian paling utama, terlebih Eropa akan memberlakukan kebijakan “paspor baterai” pada 2030.*












