Jakarta, CoreNews.id – PERISTIWA spektakuler yang dialami oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang dikenal dengan Isra’ dan Mi’raj, memanglah perjalanan yang bernuansa spiritual, disamping menyertakan fisik.
Oleh karenanya, bahasan mengenai Isra’ dan Miraj kebanyakan berhenti pada perintah Shalat lima waktu yang diterima oleh Rasulullah sebagai oleh-oleh wisata, tanpa ada upaya untuk menyambungkan kisah itu dalam pembentukan masyarakat baru di tahun berikutnya di kota Yatsrib, yang sekarang kita kenal dengan Al-Madinatul Munawwarah.
Adalah H.Agus Salim salah seorang The Founding Fathers yang dijuluki The Grand Old Man, yang berhasil mencoba melakukan kerja penyambungan sejarah: Isra’ Mi’raj dan Hijrah.
Upaya beliau bisa dipahami karena Isra’ & Mi’raj terjadi satu tahun sebelum Hijrah, sehingga Salim di dalam bukunya yang berjudul: “Tjerita Isra’ Dan Mi’radj Nabi Muhammad S.A.W.” menyebutnya sebagai Persediaan Umat Baru
Paparan Hadji Agus Salim mengenai Isra’ & Mi’raj sebagai persediaan umat baru semakin logis untuk diterima, bila kita melihat sejarah kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ibarat sebuah kitab yang terdiri dari bab-bab yang mempunyai kenisbatan atau keterkaitan satu sama lain.
Demikianlah tampak dengan jelas, Isra’ & Mi’raj sebagai persiapan, hijrah sebagai prosesnya, sedangkan masyarakat baru di Madinah merupakan hasilnya.
Komitmen Yang Kuat
Negara Madinah yang akan didirikan Nabi setahun kemudian membutuhkan warga yang memiliki komitmen untuk mena’ati konstitusi dan aturan lainnya, dimana dalam konteks negara Madinah, bersumber Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya serta aturan lain, seperti yang diatur dalam Mitsaqu Madinah (Piagam Madinah) itu.
Disamping itu, warganya juga harus memiliki komitmen yang kuat kepada kesatuan dan persatuan. Karena dengan itu, negara akan menjadi kuat ketahanan dan pertahanannya, baik dalam menghadapi tantangan dari dalam maupun dari luar negeri. Masyarakat yang memiliki semangat persatuan, juga akan rela mengorbankan apa yang dimilikinya untuk membantu warga lainnya yang membutuhkan. Dengan ungkapan lain, mereka mempunyai solidaritas yang sangat tinggi. (QS Al-Hasyr/59: 9- 10 ).
Ini semua akan diperoleh, ketika warga masyarakatnya terdiri dari orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya (QS An-Nur/24: 51- 52).
Itu sebabnya, Nabi sengaja membeberkan kisah perjalanan kilat beliau ke Masjidil Aqsha dan naik ke Sidratul Muntaha kepada masyarakat Makkah, untuk menguji siapa diantara mereka yang beriman dan siapa yang mengingkari. Sekaligus guna memastikan siapa kawan dan siapa lawan.
Dengan begitu, Nabi mengetahui secara persis siapa yang memenuhi syarat untuk hijrah dan menjadi warga negara Madinah, dan siapa yang tidak.
Moralitas Yang Tinggi
Dalam melaksanakan program pembangunannya, Negara Madinah yang dipimpin langsung oleh Nabi Allah, membutuhkan manusia mukmin yang cerdas, terampil, tetapi juga memiliki integritas dan kejujuran.
Itu semua bisa terwujud, bila mereka mendirikan Shalat. Karena dengan Shalat, orang terhindar dari perbuatan keji dan munkar (QS Al-‘Ankabut/29: 45).
Hanya saja, dalam realita sosial saat ini, banyak orang yang shalat, tapi bersamaan dengan itu, dia masih mengerjakan perbuatan keji dan mungkar. Dengan kata lain, Shalat yang dikerjakannya tidak fungsional dalam dirinya. Mengapa ?
Boleh jadi, pengerjaan Shalat nya hanya bertumpu pada gerakan dan bacaan saja, tetapi sunyi dari kekhusyu’an. Padahal, kekhusyu’an itu adalah inti atau substansi dari Shalat yang menjadikan mushallinya mempunyai sikap moralitas yang tinggi.
Betapa tidak, ketika shalat khusyu’ yang memiliki dua elemen penting itu ditransformasikan di luar ibadah shalat, atau di dalam kehidupan nyata sehari-hari, maka efek moralnya amat
sangat dahsyat sekali.(QS Al-Baqarah/2: 45-46).
Bayangkan, dikala dalam shalat, orang meyakini bahwa mereka tengah berdialog dengan Allah, Rabb nya, lalu ditransformasikan, maka orang akan selalu merasa dibersamai, dan diawasi oleh Allah Ta’ala, kapanpun dan dimanapun dia berada.
Dan ketika orang di dalam shalat menyakini bahwa mereka bisa saja dipanggil kembali kepada Allah, Penciptanya, alias wafat, lalu ditransformasikan, maka orang akan menyadari bahwa ajal di tangan Allah. Manusia tidak tahu secara persis, kapan dia akan wafat. Artinya, seorang Mushalli merasa diintai oleh kematian setiap sa’at.
Hal ini mendorong orang untuk senantiasa waspada menghadapi kematian, dengan cara melakukan kebaikan setiap saat, dan sebaliknya menjauhkan kemaksiatan dalam segala bentuknya, disetiap saat pula.
Nah, dua elemen dasar itulah yang menjadikan shalat itu, mampu mencegah orang dari perbuatan keji dan mungkar.
Dan orang-orang dengan kualitas moral semacam itu pula yang diharapkan menjadi pelaku utama pembangunan di negara Madinah yang akan didirikan oleh Nabi Allah sesudah hijrah.
Khatimah
Pesan moral profetik dari peristiwa Isra’ & Mi’raj ialah mendorong kaum muslimin disetiap zaman dan generasi, untuk selalu berupaya meningkatkan mutu Iman dan Taqwanya, lalu berjuang memasyarakatkannya dalam kehidupan sosial, sehingga terwujud masyarakat yang beriman dan bertaqwa, sebagai yang telah dicontohkan oleh Nabi Allah di Madinah.
Masyarakat semacam itulah yang mendapat jaminan keberkatan dari Allah Ta’ala (QS Al-A’raf/7: 96)
Tanpa upaya itu, maka peristiwa Isra’ & Mi’raj hanyalah sekedar kisah yang sangat menakjubkan, yang diperingati setiap tanggal 27 Rajab, tapi tidak punya daya gerak yang signifikan untuk merealisasikan sebuah perubahan besar.
Penulis: Hanafi Tasra
Jakarta, 27 Rajab 1447
16 Januari 2026
Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini sepenuhnya milik penulis dan tidak mencerminkan sikap redaksi CoreNews.id.













