Corenews.id
No Result
View All Result
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Daerah
  • Politik
    • Pemilu
  • Hukum
  • Pariwara
  • Bisnis
    • Keuangan
    • Ekonomi
    • Properti
    • Pasar Modal
  • Tekno
  • Gaya Hidup
  • Humaniora
  • Olah Raga
  • Tokoh
  • Opini
Corenews.id
No Result
View All Result

MES Di Persimpangan Jalan: Dari Stagnasi Menuju Kebangkitan?

by Redaksi
9 September 2025 | 20:44
in Opini
Ekonomi Syariah

Ekonomi Syariah

Bagikan sekarang:

Penulis: Agustianto Mingka, Presiden Direktur Iqtishad Consulting, Ketua Bidang Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI)

Prolog: Harapan yang Pernah Menyala

Sejak berdiri pada tahun 2001, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) diposisikan sebagai wadah strategis untuk mengarusutamakan ekonomi syariah di Indonesia. MES adalah organisasi ekonomi syariah yang menghubungkan regulator, pelaku industri, akademisi, ulama, serta masyarakat luas dalam satu misi: menjadikan ekonomi syariah sebagai arus utama pembangunan nasional.

Harapan Besar kepada Meneg BUMN

Ketika Erick Thohir, Menteri BUMN sekaligus pengusaha berpengaruh, ditetapkan sebagai Ketua Umum MES pada awal Januari 2021, ekspektasi umat cukup tinggi dan  melonjak naik. Sejumlah tokoh merasa optimis dan  mengucapkan selamat atas terpilihnya Erick Thohir yang sedang menjabat Menteri Negara BUMN.

Banyak pihak percaya, jejaring politik dan bisnis Erick akan memperluas gaung MES. Nama besar seorang menteri sekaligus tokoh publik dipandang mampu mendongkrak daya tarik ekonomi syariah ke panggung utama nasional dan menjadi arus utama.

Namun, dua tahun berselang pasca MUNAS IV 1 Oktober 2023, gaung MES justru meredup dan mengalami degradasi. Aktivitasnya stagnan, publik jarang mendengar program baru yang inovatif, dan perannya dalam ekosistem ekonomi syariah seolah mengecil secara drastis. MES kini berada di persimpangan jalan: apakah akan terus meredup menjadi organisasi simbolik, atau bangkit kembali menjadi motor penggerak gerakan ekonomi syariah nasional?

Akar Degradasi dan  Stagnasi MES

1. Kepemimpinan Simbolik, Kurang Operasional

Figur Erick Thohir memberi nilai tambah dari sisi branding, tetapi kesibukannya sebagai pejabat negara dan pengurus sepak bola PSSI, membuat peran kepemimpinannya di MES lebih bersifat simbolis.

MES membutuhkan day-to-day leadership yang konsisten, bukan hanya wajah besar di papan nama. Ketika pemimpin puncak terlalu sibuk, arah organisasi menjadi kabur, inisiatif strategis tersendat, dan mesin organisasi kehilangan ritme.

2. Program Akar Rumput yang Melemah

MES sejak awal berdiri dikenal dengan program nyata di level masyarakat: literasi keuangan syariah yang masif, kerjasama produktif dengan banyak lembaga strategis,baik regulator maupun industri keuangan syariah,  pendampingan UMKM, gerakan ekonomi pesantren, hingga dukungan koperasi syariah, BMT dan Industri Halal. Namun dalam dua tahun terakhir, gaung program ini melemah dan seperti mati suri.

Setelah MUNAS MES tahun Oktober 2023, di Plaza Mandiri, kepengurusan MES pun tidak ada, kosong dan hampa struktur. Padahal ratusan pegiat dan pejuang ekonomi syariah siap menghidupkan mengaktifkan, menggerakkan ribuan pegiat, ulama, pakar, praktisi, pengusaha, regulator, pemerintah, lembaga lembaga perbankan dan keuangan syariah, 500-an perguruan tinggi.

READ  ISRA' & MI'RAJ : Persiapan Pembentukan Masyarakat Baru

Sangat disayangkan dalam dua periode terakhir, MES awalnya tampak lebih sering hadir dalam forum elitis dan seremoni, sementara denyut di lapisan bawah meredup. Tetapi semakin ke tahun 2023-2025 MES semakin stagnan, karena kehampaan pengurus struktural.

3. Sinergi Lintas Lembaga yang Longgar

Ekonomi syariah nasional kini digerakkan oleh berbagai lembaga: KNEKS, Bank Indonesia, OJK, IAEI, MUI, BAZNAS, dan banyak perguruan tinggi. Di antara semua itu, MES seharusnya menjadi jembatan dan katalis. Namun yang terlihat, MES gagal memosisikan diri sebagai simpul penghubung yang aktif. Kegiatan lebih bersifat sporadis, bukan sinergi jangka panjang.

MES perlu figur penggerak yang produktif yang energik, mempunyai jaringan luas, punya leadership yang kuat untuk membangun sinergi dan kolaborasi dengan semua unsur pegiat ekonomi syariah, dan punya pengalaman yang banyak sebagai penggerak organisasi ekonomi syariah. Mesin kesekjenan harus dipegang figur yang tepat, bukan pebisnis tanpa pengalaman organisasi yang mumpuni. Struktur MES harus berubah secara alamiah, bukan secara politis seperti masa lalu di dua periode terakhir.

4. Tertutup oleh Dominasi BUMN

Gaya kepemimpinan Erick yang terbiasa di BUMN terbawa ke MES. Fokus lebih pada branding besar atau proyek berskala korporasi, tetapi abai pada gerakan komunitas. MES kehilangan watak independen sebagai civil society organization karena terlalu identik dengan kekuatan negara,  bisnis dan sepak bola PSSI.

5. Menipisnya Ruang Intelektual

Pada era sebelumnya, MES ramai diisi diskusi akademis, kajian kebijakan, dan forum intelektual yang memperkaya wacana ekonomi syariah. Dua tahun terakhir, ruang seperti itu menipis dan menghilang. Para ulama, profesor, dan tokoh ekonom syariah yang dulu aktif, kini terpinggirkan oleh oknum politik bisnis bukan niat murni memajukan perekonomian syariah. MES kehilangan “roh intelektual syariah” yang selama ini menjadi bahan bakar gerakan ekonomi syariah sukses di tanah air.

Mengapa Kebangkitan MES Penting?

Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia, dengan potensi pasar syariah luar biasa: perbankan syariah, industri halal, zakat, wakaf, hingga bisnis UMKM. Semua memerlukan wadah yang bisa mengonsolidasikan gerakan masyarakat dan menjembatani dengan regulator.

KNEKS bisa menjadi motor kebijakan negara, meskipun saat ini posisi KNEKS masih di bawah Dirjen, dan terkatung-katung, upaya tranformasi ke BPES kandas,  tetapi MES adalah wajah masyarakat. Tanpa MES yang aktif, ekonomi syariah kehilangan grassroots movement. Ekonomi syariah kehilangan mesin penggerak untuk dominan atau sekedar mencapai market share 10%.

READ  Alasan Sebenarnya Israel Menyerang Iran

Lebih jauh, stagnasi MES bisa memperlambat agenda Indonesia menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah global. Untung saja ada horizon baru IAEI, dengan kepemimpinan tiga menteri yang strategis.

IAEI Kini Mulai akan Bangkit

Wadah pakar ekonomi syariah yang mensinergikan tiga kekuatan utama diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi syariah di tanah air lebih signifikan. Kolaborasi menteri keuangan, menteri agama dan menteri diknas & ristek di pimpinan tertinggi IAEI, diharap akan membangkitkan kembali organisasi IAEI. Di bawah menteri agama terdapat lebih 1.000 program studi yang siap menjadi markas baru pengembangan ekonomi syariah.

Namun harapan kita semua IAEI sebagai wadah akademisi dapat bersinergi dengan MES sebagai wadah praktisi, politisi, dan birokrat ekonomi syariah.

Strategi Mengaktifkan Kembali MES

1. Reformasi Kepemimpinan Operasional

Kepemimpinan MES harus berubah dengan MUNAS luar biasa atau cara lain yang dibenarkan AD/ART, MES harus memiliki pemimpin operasional harian yang kuat. Sekretaris Jenderal atau Ketua Harian harus diisi figur yang visioner, berkomitmen penuh,energik,  punya jaringan luas dan punya kapasitas intelektual. Sosoknya harus bisa menjadi motor penggerak yang menyuntikkan gagasan dan menggerakkan mesin organisasi MES ke masa depan.

2. Kembali ke Basis: Umar, UMKM, Pesantren, dan Komunitas

MES harus turun ke akar rumput. Literasi ekonomi syariah harus kembali digencarkan di kampus, masyarakat luas, pesantren, masjid, dan komunitas. Program pendampingan dan atau pembinaan UMKM syariah, koperasi syariah, serta akses pembiayaan halal harus jadi garda depan. Di sinilah letak keunggulan MES dibanding lembaga lain: dekat dengan masyarakat, menyatu ke ummat, mengajar ke bawah dan menyambung ke atas (birokrat dan pemerintah).

3. Bangun Sinergi Lintas Lembaga

MES perlu menjalin partnership jangka panjang dengan Bank Indonesia, OJK, BI, KNEKS, IAEI, MUI, Kementerian Terkait, Lembaga Pemerintah seperti Danantara, LPDB,  dan perguruan tinggi. Bukan sekadar hadir di acara, tapi membangun joint program: literasi riset bersama asuransi, bank dan pasar modal,  akselerasi industri halal, sertifikasi UMKM, hingga integrasi zakat-wakaf dengan sistem keuangan syariah.

4. Menghidupkan Kembali Ruang Intelektual

MES harus menyediakan ruang bagi ulama, akademisi, dan ekonom syariah untuk berdebat sehat, melahirkan gagasan, dan memberi rekomendasi kebijakan. Think tank MES perlu diaktifkan sebagai pusat kajian ekonomi syariah. Tanpa roh intelektual, organisasi hanya akan jadi kulit tanpa isi.

READ  80 Tahun Indonesia, Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

5. Digitalisasi Gerakan

Masyarakat kini hidup di ruang digital. MES harus memanfaatkan teknologi: membuat platform edukasi syariah online, marketplace halal, aplikasi networking komunitas, dan kanal komunikasi publik yang aktif. Gerakan digital ini bisa menjangkau jutaan anggota potensial, khususnya generasi muda.

6. Revitalisasi Keanggotaan

Keanggotaan MES harus lebih dari sekadar nama di database. Anggota perlu merasakan manfaat nyata: akses pelatihan, sertifikasi halal, jejaring usaha, bahkan peluang pendanaan. Jika anggota merasa diuntungkan, mereka akan aktif dan loyal. MES akan kembali hidup sebagai organisasi berbasis partisipasi, bukan sekadar elitisme.

Mencari Momentum Kebangkitan

Stagnasi dua tahun terakhir tidak boleh dibiarkan. MES perlu memanfaatkan momentum, misalnya menjelang transisi pemerintahan baru 2024–2029, untuk memosisikan diri kembali di pentas nasional. Dalam era persaingan global, ekonomi syariah adalah peluang emas. Tanpa MES yang kuat, peluang itu bisa bilang dan bisa  direbut oleh pihak lain.

Kebangkitan MES bukan semata kepentingan organisasi, tetapi kepentingan nasional. Jika MES kembali hidup, ia akan menjadi motor penggerak literasi syariah, akselerator industri halal, serta jembatan kebijakan negara dengan gerakan masyarakat.

Penutup

MES hari ini ibarat kapal besar yang mesin utamanya mati. Kapalnya ada, benderanya berkibar, tetapi ia hanya mengapung di tengah laut tanpa arah. Padahal, dua dekade lalu, MES pernah menjadi pionir gerakan ekonomi syariah yang sangat dominan

Kebangkitan MES membutuhkan keberanian untuk berbenah: reformasi kepemimpinan lewat MUNAS LUAR BIASA, kembali ke basis masyarakat, dan praktisi LKM dan UMKM menghidupkan ruang intelektual, dan membangun sinergi lintas lembaga. Kepemimpinan MES mendatang, harus bisa menjadi  motor (harian) yang menggerakkan program akselerasi gerakan ekonomi syariah di Indonesia.

Kevakuman MES harus diubah menjadi Kedinamisan yang aktif dan produktif dengan ketua umum dan sekjen baru yang dinamis dan berkapasitas, berkompeten, punya jaringan luas dan pengalaman organisasi yg mumpuni. Jika strategi ini dijalankan, MES akan kembali menjadi rumah besar umat Islam dalam membangun ekonomi syariah nasional.

Dari stagnasi menuju kebangkitan, MES masih bisa menjadi saksi sejarah bahwa Indonesia bukan hanya negara muslim terbesar, tetapi juga pusat ekonomi syariah dunia.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini sepenuhnya milik penulis dan tidak mencerminkan sikap redaksi CoreNews.id.

Tags: Erick ThohirIAEIMasyarakat Ekonomi Syariah
Previous Post

Khofifah Bantah Isu PHK Massal di Gudang Garam, Jelaskan Fakta Program Pensiun Dini

Next Post

Nepal Dilanda Krisis Besar: Presiden Mundur, Penjara Dibobol, dan 1.500 Tahanan Kabur

Next Post
nepal-krisis-presiden-mundur-penjara-dibobol

Nepal Dilanda Krisis Besar: Presiden Mundur, Penjara Dibobol, dan 1.500 Tahanan Kabur

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PARIWARA

bpr-penataran-transformasi-layanan-top-bumd-awards-2026

Kesuksesan Transformasi BPR Penataran Pukau Juri TOP BUMD Awards 2026

22 Januari 2026 | 15:00
rsud-sambas-transformasi-layanan-kesehatan-top-bumd-awards-2026

RSUD Sambas Paparkan Transformasi Layanan Kesehatan di TOP BUMD Awards 2026

14 Januari 2026 | 22:00
Transformasi Digital Konsisten, Hanwha Life Raih TOP Digital Awards 2025 Level Stars 5

Transformasi Digital Konsisten, Hanwha Life Raih TOP Digital Awards 2025 Level Stars 5

22 Desember 2025 | 17:00
Perumda Air Minum Kota Padang TOP Digital Awards 2025

Mengalirkan Inovasi, Menyemai Layanan: Perumda Air Minum Kota Padang Kembali Raih TOP Digital Awards

5 Desember 2025 | 09:00
Pacu Transformasi Digital Nasional, Rumah Pendidikan Kemendikdasmen Raih Penghargaan TOP Digital Awards

Pacu Transformasi Digital Nasional, Rumah Pendidikan Kemendikdasmen Raih Penghargaan TOP Digital Awards

5 Desember 2025 | 08:00
RSUI Raih Penghargaan TOP Digital Awards

Perkuat Transformasi Digital untuk Tingkatkan Mutu Layanan, RSUI Raih Penghargaan TOP Digital Awards

5 Desember 2025 | 07:00

POPULER

Sejarah Pembangunan Ka’bah

Sejarah Pembangunan Ka’bah

17 Februari 2025 | 16:36
Logo X

Twitter Berubah Jadi X di App Store

2 Agustus 2023 | 08:00
prediksi-kaspersky-ai-ancaman-siber-2026

SailPoint Rombak Tata Kelola Identitas, Kini Bisa Amankan AI dan Mesin Secara Real Time

30 Maret 2026 | 20:00
Silsilah Nabi Ibrahim AS

Silsilah Nabi Ibrahim AS

10 Februari 2025 | 12:48
Pemerintah Kaji Usulan Pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB)

Pemerintah Pastikan Harga BBM Tidak Naik per 1 April 2026

31 Maret 2026 | 16:12
Ilustrasi Pekerja Kantoran

Resmi! Mulai 1 April, Pemerintah Wajibkan ASN WFH Setiap Jumat dan Batasi Penggunaan BBM

31 Maret 2026 | 21:00
  • Redaksi Corenews.id
  • Pedoman Media Siber
  • Email Login

Corenews.id | All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Daerah
  • Politik
    • Pemilu
  • Hukum
  • Pariwara
  • Bisnis
    • Keuangan
    • Ekonomi
    • Properti
    • Pasar Modal
  • Tekno
  • Gaya Hidup
  • Humaniora
  • Olah Raga
  • Tokoh
  • Opini

Corenews.id | All Rights Reserved