Jakarta, CoreNews.id – Perjanjian pengendalian senjata nuklir terakhir antara Amerika Serikat dan Rusia, New Strategic Arms Reduction Treaty (New START), akan berakhir pada Kamis, 5 Februari 2026. Berakhirnya perjanjian ini memicu kekhawatiran meningkatnya risiko perlombaan senjata nuklir yang dapat mengganggu stabilitas keamanan global.
Dikutip dari BBC News, New START ditandatangani pada 2010 untuk mencegah perang nuklir berskala besar dengan membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis yang dikerahkan masing-masing negara hingga 1.550 unit. Perjanjian ini juga mengatur transparansi melalui pertukaran data, pemberitahuan, serta inspeksi di lokasi.
Pemimpin umat Katolik dunia mendesak Washington dan Moskow memperbarui perjanjian tersebut guna mencegah perlombaan senjata baru. Meski Rusia menangguhkan partisipasi akibat perang Ukraina, kedua negara dinilai masih mematuhi batas utama perjanjian.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak terlalu khawatir. “Jika berakhir, ya berakhir… Kami akan membuat perjanjian yang lebih baik,” ujarnya.
Berakhirnya New START menandai babak baru keamanan global yang dinilai lebih tidak stabil, di tengah runtuhnya sejumlah perjanjian pengendalian senjata internasional lainnya.













