Jakarta, CoreNews.id – Arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz anjlok hingga 86 persen dibandingkan rata-rata harian tahun 2026 setelah meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan tersebut. Penurunan tajam ini terjadi menyusul serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan lalu.
Data yang dilaporkan Anadolu, Rabu (4/3/2026), menunjukkan pada Minggu (1/3/2026) hanya tiga kapal tanker yang melintasi jalur strategis tersebut, jauh di bawah kondisi normal. Di saat yang sama, lebih dari 700 kapal lainnya mengantre di kedua sisi selat.
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia yang menghubungkan produksi minyak dan gas alam cair Timur Tengah dengan pasar global melalui Teluk Oman dan Samudra Hindia. Sekitar 20 persen konsumsi minyak harian dunia atau hampir 20 juta barel melewati jalur sempit ini setiap hari.
“Sebanyak 706 kapal tanker non-Iran kini menunggu di berbagai titik di Teluk Persia, Teluk Oman, dan Laut Arab,” demikian laporan tersebut.











