Jakarta, CoreNews.id – Di lereng sejuk Kabupaten Malang, Jawa Timur, berdiri Gunung Kawi yang selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata religi paling populer di Indonesia. Hamparan pepohonan rindang, udara yang segar, hingga kompleks makam tokoh penyebar agama membuat kawasan ini selalu ramai dikunjungi wisatawan. Namun, di balik pesona alamnya, Gunung Kawi juga menyimpan cerita yang sudah lama melekat di benak masyarakat, yakni mitos tentang praktik pesugihan yang membuat tempat ini dikenal hingga ke berbagai daerah.
Cerita tersebut bermula dari kepercayaan sebagian orang yang datang untuk berziarah ke makam Eyang Djoego dan Raden Mas Imam Soedjono. Banyak peziarah meyakini doa yang dipanjatkan di lokasi itu dapat membawa keberuntungan, terutama dalam urusan rezeki dan usaha. Seiring waktu, muncul anggapan bahwa Gunung Kawi adalah tempat mencari kekayaan secara gaib atau pesugihan. Padahal, pengelola kawasan maupun tokoh masyarakat setempat berkali-kali menegaskan bahwa aktivitas utama di kawasan ini adalah ziarah, doa, dan pelestarian nilai-nilai budaya serta sejarah.

Terlepas dari berbagai mitos yang beredar, Gunung Kawi tetap menawarkan pengalaman wisata yang menarik. Pengunjung dapat menikmati suasana pegunungan yang tenang, berjalan menyusuri jalan setapak yang dipenuhi kios suvenir dan kuliner khas, hingga menyaksikan akulturasi budaya Jawa, Tionghoa, dan Islam yang terlihat dari arsitektur bangunan di kawasan wisata tersebut. Perpaduan budaya inilah yang justru menjadi daya tarik tersendiri dan membuat Gunung Kawi berbeda dari destinasi wisata lainnya di Jawa Timur.
Pada akhirnya, kisah pesugihan di Gunung Kawi lebih tepat dipandang sebagai bagian dari folklore atau cerita rakyat yang berkembang dari generasi ke generasi. Bagi wisatawan, tempat ini layak dikunjungi bukan karena mitosnya, melainkan karena kekayaan sejarah, budaya, dan suasana alamnya yang menenangkan. Menghormati tradisi lokal sambil menikmati keindahan alam menjadi cara terbaik untuk mengenal Gunung Kawi secara lebih utuh, tanpa harus terjebak pada stigma yang selama ini melekat.













