Jakarta, CoreNews.id – PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) terpaksa mengumumkan status force majeure menyusul terganggunya pasokan bahan baku akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Produsen petrokimia terbesar di Indonesia ini menyatakan situasi keamanan di sekitar Selat Hormuz menjadi biang keladi utama gangguan distribusi.
Dalam pernyataan resmi yang ditinjau Reuters pada Senin (3/3/2026), manajemen Chandra Asri menjelaskan bahwa ketidakstabilan geopolitik telah berdampak material terhadap kelancaran pengiriman feedstock ke fasilitas produksi perseroan.
“Hal ini terutama disebabkan oleh situasi keamanan di dan sekitar Selat Hormuz yang telah mengakibatkan gangguan signifikan terhadap aktivitas transportasi maritim dan secara material mengganggu pengiriman pasokan bahan baku kami,” tulis manajemen Chandra Asri dalam keterangannya.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran paling strategis bagi perdagangan energi global. Gangguan di kawasan tersebut berisiko memicu keterlambatan pasokan nafta dan berbagai bahan baku petrokimia lainnya yang menjadi komponen utama proses produksi Chandra Asri.
Status force majeure umumnya dideklarasikan perusahaan ketika menghadapi kondisi di luar kendali yang menghambat pemenuhan kewajiban kontraktual. Langkah hukum ini memberikan perlindungan bagi perseroan untuk menunda atau membatalkan pengiriman tanpa dikenakan penalti sesuai ketentang kontrak yang berlaku.
Gangguan pasokan bahan baku ini berpotensi memengaruhi tingkat utilisasi pabrik serta kinerja operasional Chandra Asri secara keseluruhan, terutama jika ketidakpastian geopolitik berkepanjangan dalam jangka menengah.
Pelaku pasar kini mencermati dampak lanjutan terhadap rantai pasok industri petrokimia domestik. Kekhawatiran juga muncul terkait potensi tekanan pada harga produk turunan di tengah volatilitas global yang masih berlangsung.
Sebagai perusahaan terintegrasi di sektor petrokimia, Chandra Asri memainkan peran penting dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri. Gangguan operasional perseroan berisiko memicu efek berantai pada berbagai industri hilir yang bergantung pada pasokan produk petrokimia.













