Jakarta, CoreNews.id – Membangun Security Operations Center (SOC) kini menjadi prioritas bagi banyak organisasi di kawasan Asia Pasifik. Namun, di balik rencana tersebut, perusahaan menghadapi realitas biaya, waktu implementasi, dan tantangan operasional yang tidak sederhana.
Studi terbaru dari perusahaan keamanan siber Kaspersky menunjukkan bahwa rata-rata anggaran global untuk membangun SOC mencapai sekitar 2 juta dolar AS. Meski demikian, angka tersebut menyembunyikan perbedaan besar antarnegara dan skala organisasi.
Di kawasan Asia Pasifik, mayoritas perusahaan memilih anggaran lebih konservatif. Sekitar 93 persen organisasi di wilayah ini merencanakan anggaran di bawah 1 juta dolar AS untuk membangun SOC. Di Indonesia, persentasenya bahkan mencapai 91 persen.
Meski demikian, sebagian organisasi tetap mengalokasikan dana jauh lebih besar. Dalam beberapa kasus, investasi SOC dapat mencapai hingga 5 juta dolar AS, dengan rata-rata implementasi sekitar 3,5 juta dolar AS, terutama bagi perusahaan dengan infrastruktur TI yang lebih kompleks.
Menurut Kepala Konsultasi SOC di Kaspersky, Roman Nazarov, 4/3/2026, investasi awal biasanya difokuskan pada lisensi perangkat lunak dan perangkat keras. Namun biaya operasional jangka panjang—terutama gaji tenaga ahli keamanan siber—sering kali menjadi komponen terbesar dalam total biaya kepemilikan.
Dari sisi waktu implementasi, sekitar 69 persen organisasi di Asia Pasifik memperkirakan pembangunan SOC dapat selesai dalam 6 hingga 12 bulan. Sementara itu, sekitar 25 persen perusahaan memproyeksikan proses tersebut memakan waktu hingga dua tahun.
Namun tantangan terbesar tidak selalu terkait teknologi. Penelitian ini menunjukkan bahwa 34 persen perusahaan kesulitan mengukur efektivitas SOC. Evaluasi biasanya menggunakan indikator seperti Return on Investment (ROI), Mean Time to Detect (MTTD), dan Mean Time to Response (MTTR).
Selain itu, organisasi juga menghadapi hambatan biaya investasi awal yang tinggi (33 persen) serta kompleksitas integrasi berbagai sistem keamanan (30 persen). Keterbatasan talenta keamanan siber juga menjadi masalah signifikan, dengan 29 persen perusahaan menyebut kurangnya keahlian internal.
Managing Director Asia Pasifik Kaspersky, Adrian Hia, menilai diskusi tentang SOC kini telah bergeser. Bagi banyak perusahaan, pertanyaannya bukan lagi bagaimana membangunnya, melainkan bagaimana membuktikan nilai strategis dari investasi keamanan siber tersebut.













