Jakarta, CoreNews.id – Momentum mudik Idulfitri kembali menunjukkan peran strategisnya dalam mendorong roda perekonomian nasional. Tradisi tahunan ini terbukti konsisten meningkatkan konsumsi rumah tangga sekaligus mempercepat perputaran uang di berbagai daerah.
Berdasarkan data historis, konsumsi masyarakat selama periode mudik meningkat sekitar 15% hingga 20% dibandingkan bulan normal. Lonjakan ini terjadi seiring tingginya mobilitas masyarakat serta meningkatnya velocity of money di berbagai sektor ekonomi.
Selain itu, tingginya marginal propensity to consume (MPC) masyarakat Indonesia turut memperkuat daya dorong konsumsi. Dampaknya, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di daerah mampu meraup peningkatan pendapatan hingga 50%–70%.
Secara empiris, mudik Idulfitri telah menjadi instrumen penguatan ekonomi yang konsisten dan terukur. Kajian Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2023 mencatat aktivitas mudik berkontribusi sekitar 1,5% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional secara tahunan (year on year).
Kontribusi tersebut terjadi melalui redistribusi aliran uang dari pusat ekonomi ke berbagai wilayah. Hal ini memperluas dampak ekonomi sekaligus meningkatkan pemerataan peredaran uang.
“Setiap pengeluaran pemudik menciptakan efek pengganda yang memberikan dampak berlapis bagi pelaku ekonomi, termasuk UMKM, pedagang, dan sektor jasa transportasi,” ujar Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto dalam keterangan resmi, akhir pekan lalu (21/3/2026).
Proyeksi 2026: Lebih Ramai, Dampak Lebih Besar
Untuk Idulfitri 2026, pemerintah memproyeksikan aktivitas ekonomi akan semakin meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Evaluasi pada 2025 mencatat pergerakan masyarakat mencapai 154,62 juta orang.
Haryo berharap mobilitas dan belanja masyarakat tahun ini meningkat sehingga mampu mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,5%–5,6% (yoy).
Optimisme ini diperkuat oleh berbagai kebijakan stimulus pemerintah. Di antaranya alokasi stimulus fiskal lebih dari Rp12,8 triliun, penyaluran bantuan sosial sebesar Rp11,92 triliun kepada 5,04 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM), serta diskon tarif transportasi senilai Rp911,16 miliar.
Dengan kontribusi konsumsi rumah tangga yang mencapai sekitar 53%–54% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), berbagai stimulus tersebut diyakini mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Kebijakan Pemerintah Jaga Daya Beli
Pemerintah juga secara konsisten menghadirkan kebijakan untuk menjaga daya beli masyarakat selama periode Lebaran. Salah satunya melalui diskon tiket transportasi umum yang didukung subsidi dan insentif fiskal.
Selain itu, pada Lebaran 2025 pemerintah memberikan penangguhan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 6% untuk tiket pesawat, yang berhasil menurunkan harga tiket hingga 14%.
“Meski ada tekanan global akibat konflik Iran dan Israel-AS, fundamental ekonomi kita tetap kuat. Pemerintah juga berkomitmen tidak menaikkan harga BBM, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga,” kata Haryo.
Ia menegaskan, dengan berbagai dukungan tersebut, momentum mudik Lebaran 2026 diprediksi mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.













