Jakarta, CoreNews.id – PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) terus memperkuat perannya dalam industri minyak dan gas bumi (migas) nasional maupun global. Langkah konkret diwujudkan melalui pengembangan standar keselamatan berbasis riset, menyusul meningkatnya risiko operasional pada fasilitas lepas pantai yang mulai menua.
Dalam ajang Offshore Technology Conference Asia 2026 (OTC Asia 2026) di Kuala Lumpur, Malaysia, BKI memaparkan inovasi aturan teknis untuk sistem Single Point Mooring (SPM). Forum yang dihadiri lebih dari 25.000 profesional dari 89 negara itu menjadi panggung strategis bagi BKI menunjukkan kapasitasnya sebagai badan klasifikasi nasional.
Offshore Engineer BKI, Hafizh Muhammad Naufal Shidqi, menjelaskan bahwa sistem SPM merupakan titik krusial dalam rantai distribusi migas lepas pantai. “Sistem SPM menghubungkan proses pemuatan dan pembongkaran minyak dari fasilitas offshore ke kapal tanker. Risiko kegagalan tidak hanya mengganggu operasional, tetapi juga berpotensi menyebabkan tumpahan minyak yang merusak ekosistem laut,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Riset yang dikembangkan BKI bersama SKK Migas dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini berfokus pada mitigasi kelelahan struktur dan korosi akibat kondisi laut ekstrem. Dengan pendekatan akademik dan industri, BKI memastikan aset-aset eksisting tetap memenuhi standar internasional.
Partisipasi di OTC Asia 2026 juga dimanfaatkan BKI untuk menjalin kolaborasi global dengan Petronas, Eni S.p.A., dan Yinson Holdings. Targetnya, BKI mampu menjadi pemain kunci penetapan standar keselamatan offshore di Asia sekaligus mendorong operasional migas yang lebih aman dan berkelanjutan.













