Jakarta, CoreNews.id – Nilai tukar rupiah mencatatkan rekor terburuk sepanjang sejarah pada pekan ini. Untuk pertama kalinya, rupiah tembus ke atas Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat.
Berdasarkan data Bloomberg, Jumat (5/6/2026), rupiah di pasar spot ditutup di Rp 18.036 per dolar AS, menguat tipis 0,07% secara harian. Namun dalam sepekan, rupiah terpantau melemah 0,86% dari posisi Rp 17.881 per dolar AS. Bahkan pada Kamis (4/6/2026), rupiah sempat menyentuh level terburuk sepanjang masa di Rp 18.049.
Geopolitik dan Suku Bunga AS Jadi Pemicu
Analis Mata Uang Ibrahim Assuaibi mengungkapkan, pelemahan rupiah dipengaruhi eskalasi konflik Timur Tengah. Israel melakukan operasi militer di Lebanon Selatan, sementara Iran menembakkan rudal ke Kuwait dan Bahrain. Serangan AS di Pulau Qeshm Iran turut memicu ketegangan di Selat Hormuz, jalur minyak vital dunia.
Dari AS, data PMI non-manufaktur menunjukkan lonjakan harga jasa tertinggi sejak 2022. “Ini memperkuat ekspektasi Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama,” ujar Ibrahim.
Surplus Perdagangan Tergerus
Dari dalam negeri, surplus perdagangan April 2026 anjlok drastis dari US 3,32 miliar menjadi hanya US 89,1 juta. Impor minyak melonjak, sementara inflasi Mei naik ke 3,08%. Moody’s juga memberikan peringkat Baa2 dengan outlook negatif untuk Danantara.
Research and Development ICDX Muhammad Amru Syifa memperkirakan rupiah pekan depan bergerak di kisaran Rp 17.950 – Rp 18.150, sementara Ibrahim memproyeksikan Rp 17.950 – Rp 18.250 per dolar AS. Pasar masih akan cermat menanti data ketenagakerjaan dan inflasi AS serta langkah stabilisasi Bank Indonesia.













