Jakarta, CoreNews.id — Kelangkaan BBM yang melanda sejumlah daerah dalam satu pekan terakhir termasuk yang melanda Sumatra, khususnya di wilayah Sumatra Utara disebabkan oleh 3 hal. Pertama, ada perubahan pola konsumsi (shifting). Kedua, terjadi pembelian dalam jumlah berlebih (panic buying). Ketiga, penyalahgunaan BBM bersubsidi.
Hal tersebut disampaikan Kepala BPH Migas Wahyudi Anas dalam RDP Komisi XII DPR RI di Jakarta (16/7/2026). Menurut Wahyudi kembali, konsumsi BBM subsidi naik sekitar 10% – 15%, yang mengakibatkan antrean panjang di SPBU, khususnya di jalur-jalur logistik seperti Trans Sumatra. Tren peningkatan konsumsi BBM subsidi atau Biosolar dan Pertalite terjadi pasca kenaikan harga Jenis BBM Umum (JBU) seperti Pertamax dan Dex Series.
Sebagai informasi, realisasi penyaluran Jenis BBM Tertentu (JBT) atau minyak solar dan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) atau Pertalite adalah sebagai berikut. Hingga Juni 2026, penyaluran JBT minyak solar mencapai 9,48 juta kiloliter (KL) atau 50,85% dari total kuota JBT minyak solar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, yakni 18,64 juta KL. Sementara itu, realisasi penyaluran JBKP Pertalite mencapai 13,96 juta KL sampai dengan Juni 2026. Jumlah itu setara dengan 47,68% dari kuota JBKP pada APBN 2026, yang dialokasikan sebanyak 29,27 juta KL.*













