Jakarta, CoreNews.id – Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,1 mengguncang Prefektur Kumamoto di Pulau Kyushu, Jepang, Selasa (29/7/2026). Bencana tersebut mengakibatkan lebih dari 50 orang mengalami luka-luka serta memicu kerusakan bangunan, kebakaran, dan gangguan pada infrastruktur jalan.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) sebelumnya sempat mengeluarkan peringatan tsunami setelah guncangan utama terjadi. Namun, hingga beberapa jam kemudian tidak dilaporkan dampak tsunami yang signifikan.
Stasiun televisi NHK melaporkan sekitar 10 penghuni panti jompo di Kota Hikawa ikut mengalami luka akibat guncangan kuat tersebut. Meski demikian, pemerintah memastikan tidak ada gangguan terhadap operasional pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di sekitar wilayah terdampak.
Sebagai langkah tanggap darurat, Pemerintah Jepang segera mengaktifkan pusat koordinasi penanganan krisis di Kantor Perdana Menteri guna mempercepat respons terhadap bencana.
Ahli Soroti Aktivitas Sesar Lama
Sekitar satu jam setelah gempa utama, JMA mencatat gempa susulan berkekuatan Magnitudo 6,1 pada kedalaman dangkal. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap kemungkinan gempa susulan yang lebih kuat.
Menurut laporan Kyodo, para ahli menduga gempa Kumamoto kali ini dipicu oleh tekanan yang masih tersimpan di zona sesar Hinagu dan Futagawa, kawasan yang juga memicu gempa besar pada 2016.
Profesor Seismologi Universitas Tohoku, Shinji Toda, menjelaskan aktivitas gempa kecil di sekitar sesar Hinagu meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan sebelum bencana 2016. Hal itu menunjukkan akumulasi tegangan yang akhirnya memicu pergerakan sesar pada gempa terbaru.
Gempa pada Selasa terjadi pada kedalaman sekitar 16 kilometer dengan mekanisme sesar geser (strike-slip fault), karakteristik yang sama dengan gempa besar Kumamoto satu dekade lalu. Meski demikian, JMA belum menyatakan secara resmi bahwa kedua peristiwa tersebut saling berkaitan.













