Jakarta, CoreNews.id – Penguasaan ilmu agama tidak lagi cukup tanpa kemampuan memahami perkembangan teknologi. Sebaliknya, kemajuan teknologi juga tidak akan membawa kemaslahatan apabila tidak disertai fondasi moral yang kuat. Pesan tersebut disampaikan Prof. Dr. H. Ahmad Tholabi Kharlie saat memberikan pembekalan kepada peserta Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Santri Tahun 2026 yang diikuti santri-santri pilihan dari berbagai pondok pesantren di Indonesia.
Dalam materi bertajuk “Santri Penggerak Perubahan: Dari Ekoteologi Menuju Green Leadership”, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu memperkenalkan konsep Dual-Core Santri, yakni generasi yang mampu mengintegrasikan peradaban kitab dengan peradaban digital sebagai fondasi kepemimpinan masa depan.
Menurut Ahmad Tholabi, dunia sedang mengalami transformasi yang sangat cepat akibat perkembangan kecerdasan buatan, digitalisasi, dan perubahan struktur pekerjaan. Dalam situasi seperti itu, pesantren memiliki tanggung jawab strategis untuk melahirkan generasi yang tidak hanya memahami ajaran Islam secara mendalam, tetapi juga mampu membaca data, memanfaatkan teknologi, dan menghasilkan inovasi bagi masyarakat.
“AI mampu menghasilkan informasi, tetapi manusia tetap harus menentukan arah moralnya. Karena itu teknologi harus dikendalikan oleh akhlak, bukan sebaliknya,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa kehidupan pesantren sesungguhnya telah membentuk berbagai kompetensi abad ke-21, seperti disiplin, kemampuan bekerja sama, regulasi emosi, adaptabilitas, serta integritas. Nilai-nilai tersebut merupakan modal penting untuk menghadapi perubahan global sekaligus menjadi fondasi kepemimpinan yang bertanggung jawab.
Selain penguatan kapasitas digital, Ahmad Tholabi juga mengajak para santri memperkuat kepedulian terhadap lingkungan. Menurutnya, kepemimpinan masa depan harus mampu mengintegrasikan literasi digital, karakter, dan kesadaran ekologis sehingga pembangunan tidak mengabaikan keberlanjutan bumi.
Ia berharap seluruh peserta LDK Santri 2026 mampu menjadi agen perubahan di lingkungan pesantren masing-masing dengan menghadirkan berbagai inovasi yang memadukan nilai keislaman, teknologi, dan kepedulian terhadap lingkungan. Melalui proses tersebut, pesantren diharapkan terus melahirkan pemimpin-pemimpin muda yang adaptif, berintegritas, dan siap menjawab tantangan Indonesia pada masa depan.













