Jakarta, CoreNews.id – Identitas mesin kini berkembang jauh lebih cepat dibandingkan identitas manusia di lingkungan perusahaan Asia Pasifik (APAC). Laporan terbaru Palo Alto Networks menunjukkan rasio identitas mesin terhadap identitas manusia telah mencapai 111:1, didorong oleh meningkatnya penggunaan agen kecerdasan buatan (AI agentik) dalam operasional bisnis.
Perkembangan tersebut membuat identitas digital menjadi sasaran utama serangan siber, bahkan melampaui ancaman malware yang selama ini mendominasi. Di sisi lain, banyak organisasi masih menggunakan pendekatan keamanan tradisional yang belum mampu mengelola lonjakan identitas non-manusia secara efektif.
Risiko Pembobolan Semakin Besar
Laporan itu juga mencatat sembilan dari sepuluh organisasi di APAC mengalami sedikitnya satu insiden pembobolan keamanan yang berkaitan dengan identitas dalam 12 bulan terakhir. Selain itu, sebanyak 98 persen organisasi menghadapi fragmentasi sistem identitas (identity silos) yang memperlambat respons terhadap insiden hingga rata-rata 13 jam.
Senior Director Identity Domain Consulting Palo Alto Networks Jeffrey Kok, 23/7/2026, mengatakan pelaku serangan kini tidak lagi harus meretas sistem secara langsung. Mereka cukup memanfaatkan identitas manusia maupun identitas AI yang berhasil dicuri untuk memperoleh akses ke jaringan perusahaan.
Menurutnya, perusahaan memerlukan platform keamanan identitas yang mampu menemukan, mengendalikan, dan mengelola seluruh identitas, baik manusia maupun mesin, secara terintegrasi.
Tata Kelola Identitas Perlu Diperkuat
Palo Alto Networks merekomendasikan tiga langkah utama untuk menghadapi tantangan tersebut, yakni mengelola seluruh agen AI secara terpusat, menerapkan akses berdasarkan kebutuhan dan waktu tertentu (just-in-time access), serta mengotomatiskan siklus pengelolaan identitas. Langkah ini dinilai penting agar organisasi dapat merespons ancaman siber dengan kecepatan yang sebanding dengan perkembangan teknologi AI.













