Jakarta, CoreNews.id – Konflik berkepanjangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) memasuki babak baru setelah muncul rancangan kesepakatan yang berpotensi mengubah pengelolaan Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Dalam proposal yang tengah dibahas bersama Oman, Iran disebut berpeluang memperoleh kewenangan lebih besar terhadap kapal-kapal yang memasuki Teluk Persia.
Mengutip Reuters, Rabu (5/8/2026), seorang sumber senior Iran dan dua pejabat kawasan menyebut rancangan tersebut merupakan salah satu konsesi terbesar yang pernah ditawarkan kepada Teheran selama proses perundingan. Hingga kini pemerintah AS belum memberikan tanggapan resmi mengenai proposal tersebut.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan peluang tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz semakin besar. Namun, sejumlah pejabat Washington tetap menegaskan AS tidak akan menyetujui Iran menguasai akses menuju jalur perdagangan energi global tersebut.
Negosiasi Masih Berlangsung
Iran dan Oman dilaporkan terus melakukan pembicaraan bilateral mengenai mekanisme pengelolaan Selat Hormuz. Iran mengklaim pembahasan telah mencatat kemajuan signifikan dan mengusulkan agar kapal yang keluar maupun masuk Teluk Persia melintasi perairan teritorialnya.
Di sisi lain, sejumlah sumber kawasan menyebut definisi mengenai bentuk “kendali” masih menjadi perdebatan. Negara-negara Teluk menginginkan proses inspeksi kapal dilakukan secara bersama oleh negara kawasan, sementara biaya pelayaran bersifat sukarela.
Iran mengusulkan pungutan sebesar 5-7 persen dari nilai muatan kapal yang melintas, sedangkan Oman menawarkan tarif sekitar 3 persen. Adapun AS menghendaki jalur pelayaran tetap bebas tanpa biaya tambahan.
Dampak terhadap Kawasan
Apabila tercapai, kesepakatan tersebut diperkirakan mengubah keseimbangan geopolitik Timur Tengah sekaligus memengaruhi arus perdagangan energi dunia. Selama perang berlangsung, Iran beberapa kali memperingatkan negara-negara Teluk bahwa serangan baru terhadap wilayahnya akan dibalas dengan menyerang fasilitas energi strategis di kawasan.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan pembicaraan dengan Oman telah menghasilkan pemahaman mendasar mengenai pengaturan lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Meski demikian, berbagai isu teknis dan politik masih harus diselesaikan sebelum kesepakatan dapat diwujudkan.
Sementara itu, Trump menghadapi tekanan politik domestik untuk mengakhiri perang menjelang pemilu paruh waktu November. Di tengah berlanjutnya negosiasi, perkembangan pembahasan Selat Hormuz menjadi perhatian dunia karena berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan sekaligus keamanan pasokan energi global.













