Jakarta, CoreNews.id — Pembiayaan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari Rp1.500 triliun untuk 9.000 UMKM, ditargetkan menjadi Rp2.000 triliun. Penaikan target tersebut, dilakukan sebagai upaya untuk memperluas akses pembiayaan, khususnya bagi pelaku usaha yang selama ini masih belum memperoleh akses pembiayaan dalam skala yang memadai.
Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto dalam acara UMKM Finance Summit 2026 di kawasan Jakarta Selatan, (11/8/2026). Menurut Airlangga, selain untuk meningkatkan penyaluran kredit, peningkatan target pembiayaan juga diharap dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekosistem dan digitalisasi agar UMKM tidak hanya memperoleh kucuran pendanaan tetapi juga naik kelas.
Airlangga juga mendorong UMKM di Indonesia bisa belajar dari India dalam upaya memperkuat produksi sekaligus menjaga akses pasar. Menurutnya, kemampuan mempertahankan pasar menjadi salah satu faktor penting yang membuat UMKM India berhasil menjadi basis perekonomian nasional.
Sebagai informasi, berdasar data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2026, kredit UMKM dicatat mencapai Rp 1.519,1 triliun atau tumbuh 1,05 persen secara tahunan/year to year (yoy). Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit pada Mei 2026 sebesar 0,6 persen, bahkan sebelum-sebelumnya sempat tumbuh minus.*












