Baghdad, CoreNews.id — AS angkat kaki dari Irak setelah berdiam selama 23 tahun. Dikutip dari Reuters, para pakar keamanan Irak menilai bahwa penarikan pasukan AS telah disepakati pada tahun 2024 di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden dan baru dilaksanakan pemerintahan Donald Trump.
Invasi AS ke Irak, awalnya mendapat keberatan dari PBB pada 2003. Namun invasi tersebut tetap dilakukan Presiden AS George W Bush dan sekutunya Perdana Menteri Inggris Tony Blair dengan dalih Irak yang dipimpin Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah masal. Belakangan, dalih tersebut terbukti kebohongan belaka.
Berdasar survei Lancet, Agresi AS dan sekutunya di Irak telah membunuh sedikitnya 600 ribu orang. Sementara kematian tambahan diperkirakan mencapai sejuta jiwa. Sebanyak 4.500 warga Amerika, kebanyakan anggota militer tewas selama lebih dari dua dekade peperangan.
Mundurnya AS dari Irak menurut Jasim al-Bahadli, seorang analis keamanan Irak yang memiliki spesialisasi dalam kajian mengenai kelompok-kelompok bersenjata Syiah yang berpihak pada Iran, akan membuat Iran memperoleh keuntungan strategis dari kepergian koalisi tersebut. Hal ini karena akan menghilangkan kehadiran militer yang selama bertahun-tahun menjadi penyeimbang bagi pengaruh Teheran di Irak.
Sementara itu menurut komandan di Islamic Resistance in Iraq Abu Mojtaba al-Yasiri, sebuah kelompok payung yang menaungi berbagai faksi bersenjata yang didukung Iran, penarikan pasukan AS tersebut sebagai “kemenangan bersejarah bagi kelompok-kelompok perlawanan Islam Irak dan rakyat Irak yang bermartabat, serta kekalahan telak bagi agenda Amerika. “Irak telah membuktikan bahwa kedaulatannya tidak dapat dijamin oleh pasukan asing, melainkan oleh perlawanan dan tekad rakyatnya sendiri,” katanya.
Bagi Iran yang memiliki tujuan utama memaksa pasukan Amerika meninggalkan seluruh kawasan Timur Tengah, penarikan AS dari Irak dipandang sebagai kemenangan bagi “poros perlawanan” yang terdiri dari kelompok-kelompok bersenjata sekutunya di seluruh wilayah tersebut. Wakil Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran Amir Hayat Moqaddam bahkan mengatakan keamanan akan tercipta di Irak. “Keamanan yang langgeng akan tercipta di Irak” begitu pihak Amerika meninggalkan negara dan kawasan tersebut, kata Amir, pada Senin (28/9/2026).*













