Pengembangan kompetensi manusia serta pemanfaatan kecerdasan buatan menjadi kunci peningkatan produktivitas dan daya saing perusahaan.
Jakarta, CoreNews.id — Perusahaan tidak lagi bisa mengandalkan modal, mesin, dan teknologi untuk memenangkan persaingan bisnis. Pengembangan kompetensi manusia justru menjadi faktor penting untuk meningkatkan produktivitas dan menjaga keberlanjutan organisasi.
Direktur Bina Infrastruktur dan Tenaga Pelatihan Kementerian Ketenagakerjaan RI, Teguh Djatmiko, mengatakan perusahaan perlu menempatkan pengembangan sumber daya manusia (SDM) sebagai bagian integral dari strategi bisnis.
Menurut Teguh, keunggulan perusahaan pada era persaingan modern semakin ditentukan oleh kompetensi manusia dan konsistensi organisasi dalam membangun budaya kerja unggul.
“Perusahaan yang investasi ke manusia berarti investasi ke masa depan,” kata Teguh dalam acara puncak TOP Human Capital Awards 2026 di Hotel Raffles Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Ia juga menekankan perlunya perubahan cara mengukur keberhasilan program pelatihan karyawan. Organisasi, menurut dia, tidak cukup hanya menghitung jumlah peserta pelatihan, tetapi perlu menilai dampaknya terhadap kinerja perusahaan.
“Keberhasilan pelatihan pun tak lagi diukur dari jumlah peserta, tetapi dari dampaknya ke kinerja perusahaan,” ujarnya.
AI Mengubah Cara Kerja dan Produktivitas
Pandangan serupa mengenai pentingnya pengembangan SDM disampaikan Ketua Umum Perkumpulan Manajemen Sumberdaya Manusia (PMSM) Indonesia, Dudi Arisandi. Ia menyoroti pengaruh kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin kuat terhadap fungsi human capital dan cara perusahaan mengelola pekerjaan.
Dudi menilai, perkembangan AI mendorong organisasi untuk merumuskan kembali pendekatan terhadap produktivitas. Kolaborasi antara manusia dan teknologi akan menjadi bagian penting dalam proses kerja.
“Produktivitas kini dimaknai sebagai human plus AI,” kata Dudi.
Dalam model tersebut, manusia berperan memberikan konteks dan arahan, sedangkan AI membantu menerjemahkan kebutuhan tersebut menjadi pekerjaan yang dapat dijalankan, termasuk analisis dan pemrograman atau coding.
Perubahan ini menuntut perusahaan mempersiapkan karyawan agar mampu bekerja berdampingan dengan teknologi. Penguasaan keterampilan baru, kemampuan beradaptasi, dan budaya belajar berkelanjutan menjadi semakin penting.
Human Capital Harus Selaras dengan Strategi Bisnis
TOP Human Capital Awards 2026 diselenggarakan Majalah TopBusiness. Ajang tersebut mengusung tema “Unlocking Human Potential for Sustainable Business Excellence“.
“Sebanyak 142 perusahaan mengikuti kegiatan tahun ini. Jumlah tersebut meningkat sekitar 7 persen dibandingkan penyelenggaraan pada 2025,” ungkap Ketua Penyelenggara TOP Human Capital Awards 2026, sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah TopBusiness, M. Lutfi Handayani, MM, MBA.

Penilaian mencakup enam aspek utama, yakni kepemimpinan strategis human capital, pengelolaan potensi dan talenta, pembelajaran dan keterampilan masa depan, pengalaman karyawan dan budaya berkinerja tinggi, digitalisasi human capital dan pemanfaatan AI, serta dampak bisnis dan keberlanjutan.
Keenam aspek tersebut mencerminkan perubahan peran fungsi human capital. Pengelolaan SDM tidak lagi sebatas administrasi kepegawaian, tetapi juga mencakup pengembangan kapabilitas yang mendukung pencapaian tujuan bisnis.
Di tengah perubahan teknologi, perusahaan juga perlu memastikan pemanfaatan AI dan data dilakukan secara bertanggung jawab, dengan memperhatikan privasi, keamanan, akuntabilitas, serta pengawasan manusia.
“Pengukuran dampak program human capital menjadi penting agar investasi pengembangan karyawan dapat dievaluasi dan diperbaiki secara berkelanjutan,” tutur Ketua Dewan Juri TOP Human Capital Awards 2026, Prof. Budi Widjaja Soetjipto, SE, MBA, PhD.
Dengan demikian, tantangan perusahaan bukan sekadar mengadopsi teknologi atau menyelenggarakan pelatihan, melainkan memastikan keduanya benar-benar meningkatkan kompetensi manusia, produktivitas, dan daya saing organisasi.












