Jakarta, CoreNews.id – Setelah melalui jalan panjang negosiasi selama hampir dua dekade, India dan Uni Eropa (UE) akhirnya menandatangani perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA) bersejarah yang dijuluki “mother of all deals“. Kesepakatan ini terwujud di tengah ketegangan perdagangan global yang dipicu oleh perang dagang pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
Perjanjian yang diumumkan pada Selasa (27/1/2026) ini mencakup populasi sekitar 2 miliar orang dan menciptakan pasar terintegrasi dengan nilai gabungan hampir mencapai $27 triliun, atau setara dengan 25% dari total Produk Domestik Bruto (PDB) global.
Isi dan Signifikansi Perjanjian
Ini merupakan FTA terbesar dan paling komprehensif bagi India, meliputi barang, jasa, dan investasi di seluruh 27 negara anggota UE. Kesepakatan ini diharapkan dapat mengurangi tarif secara signifikan bagi kedua belah pihak.
“Perjanjian ini akan membawa peluang besar bagi masyarakat India dan Eropa,” ujar Perdana Menteri India Narendra Modi.
Bagi UE, perjanjian ini akan menghapus atau mengurangi tarif pada 96,6% barang ekspor mereka ke India, dengan potensi penghematan bea masuk hingga 4 miliar euro per tahun. Sektor yang diuntungkan antara lain mobil, mesin, bahan kimia, farmasi, serta minuman anggur dan spiritus yang selama ini dikenai tarif sangat tinggi di India.
Sementara bagi India, UE akan menghapus semua tarif untuk 90% barang India, seperti produk kelautan/ikan, tekstil, pakaian jadi, perhiasan, dan alas kaki. Akses ke 144 subsektor jasa UE juga dibuka.
Pembukaan Sektor Otomotif India
Salah satu titik terberat dalam negosiasi selama ini adalah pembukaan sektor otomotif India yang sangat dilindungi. Di bawah kesepakatan terbaru, India akhirnya setuju untuk membuka pasar mobilnya.
New Delhi akan memotong tarif impor mobil dari UE menjadi 30-35% dari sebelumnya yang bisa mencapai 110%, untuk kemudian diturunkan bertahap menjadi 10% dalam beberapa tahun. Kendaraan listrik (EV) mendapat perlindungan khusus dengan pengecualian pemotongan tarif selama lima tahun pertama untuk melindungi produsen EV dalam negeri India.
Diversifikasi di Tengah Ketegangan dengan AS
Para analis melihat kesepakatan ini tidak hanya penting secara ekonomi, tetapi juga strategis di tengah ketegangan perdagangan kedua pihak dengan Amerika Serikat. India saat ini dikenai tarif 50% oleh AS, sebagian sebagai hukuman karena terus membeli minyak Rusia. Sementara UE juga masih menghadapi ancaman tarif tambahan dari pemerintahan Trump.
“Kesepakatan ini merupakan peluang bagi kedua pihak untuk melakukan diversifikasi dan melihat melampaui AS,” jelas Biswajit Dhar, ekonom perdagangan.
“Efek Trump telah mempercepat proses konvergensi ini, dan kita akan melihat lebih banyak keterlibatan strategis antara India dan UE,” tambah Harsh Pant dari Observer Research Foundation.
Perjanjian yang masih harus melalui proses ratifikasi hukum di Brussels dan New Delhi ini diperkirakan baru bisa berlaku operasional pada tahun depan. Keberhasilannya diharapkan dapat meningkatkan perdagangan barang India-UE yang saat ini mencapai $136 miliar menjadi sekitar $200 miliar pada 2030.
Sumber: Aljazeera.com













