Jakarta, CoreNews.id – Amerika Serikat (AS) dan Israel dilaporkan mengalami perbedaan pandangan terkait serangan udara besar-besaran Israel terhadap fasilitas minyak Iran. Washington disebut tidak setuju dengan langkah tersebut karena berpotensi memicu lonjakan harga energi global.
Seorang pejabat senior AS mengatakan pemerintahnya menilai serangan tersebut bukan keputusan yang tepat. “Kami tidak berpikir itu ide yang baik,” ujar pejabat tersebut seperti dikutip India Today, Senin (9/3/2026).
Serangan udara Israel pada Sabtu menargetkan depot bahan bakar di Tehran dan memicu kebakaran besar yang terlihat dari berbagai wilayah ibu kota Iran. Israel Defense Forces (IDF) menyatakan fasilitas tersebut digunakan pemerintah Iran untuk memasok energi, termasuk bagi unit militernya.
Meski Israel telah memberi tahu Washington sebelum operasi dilakukan, pejabat AS mengaku terkejut dengan skala serangan tersebut. Bahkan, menurut laporan Axios, Washington menyampaikan pesan keras yang mencerminkan keterkejutan mereka terhadap operasi militer Israel.
Sementara itu, Iran memperingatkan serangan terhadap infrastruktur energinya dapat memicu balasan yang berpotensi mengguncang pasar energi global. Tehran bahkan menyebut harga minyak bisa melonjak hingga 200 dolar AS per barel jika konflik terus meningkat.













