Jakarta, CoreNews.id – Perusahaan pengembang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Xurya menutup tahun 2025 dengan transformasi strategis yang memperkuat fondasi bisnis sekaligus mendorong perkembangan ekosistem energi surya di Indonesia.
Didirikan pada 2018, Xurya dikenal sebagai pionir skema sewa PLTS tanpa biaya awal untuk sektor komersial dan industri. Hingga akhir 2025, perusahaan ini telah merealisasikan lebih dari 300 proyek PLTS, baik sistem on-grid maupun hybrid off-grid, di berbagai wilayah Indonesia.
Managing Director Xurya, Eka Himawan mengatakan pemanfaatan energi surya kini semakin menjadi bagian dari strategi operasional jangka panjang perusahaan di Indonesia. “Regulasi terkait PLTS semakin jelas. Ini membuka peluang bagi kami untuk bertransformasi dari startup menjadi perusahaan energi terbarukan lokal yang mapan dan bertaraf global,” kata Eka dalam keterangan tertulis, Selasa, 3 Maret 2026.
Menurut Eka, perusahaan kini berfokus pada profitabilitas jangka panjang, pengembangan proyek yang bankable, serta peningkatan kualitas instalasi dan layanan purnajual.
Pada 2025, Xurya juga mulai mendiversifikasi bisnis ke sektor pembangkit hybrid off-grid dan Independent Power Producer (IPP). Permintaan energi terbarukan skala besar, terutama dari sektor industri, disebut terus meningkat seiring kebutuhan pasokan listrik yang stabil dan efisien.
Selain ekspansi bisnis, perusahaan juga memperkuat pengembangan talenta lokal melalui Solar Academy Indonesia (SAI) yang diluncurkan pada 2024. Program ini memberikan pelatihan teknis bagi mitra Engineering, Procurement, and Construction (EPC) untuk meningkatkan standar keselamatan dan kualitas instalasi PLTS.
Memasuki 2026, Xurya menyatakan akan terus memperluas adopsi energi surya dan mendukung percepatan transisi energi menuju ekonomi rendah karbon di Indonesia.













