Jakarta, CoreNews.id – Eskalasi konflik Amerika Serikat–Israel dengan Iran serta kebijakan tarif impor global AS yang mencapai 15 persen meningkatkan ketidakpastian ekonomi dunia.
Kondisi ini mendorong arus perdagangan dan investasi beralih ke Asia yang dinilai lebih stabil. Indonesia pun berada pada posisi strategis dengan prospek pertumbuhan kuat dan stabilitas domestik terjaga.
“Momentum Indonesia–Tiongkok bukan hanya peluang perdagangan, tetapi juga mencerminkan transformasi lanskap bisnis regional yang semakin terintegrasi,” ujar Director of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Anthonius Sehonamin.
Bank DBS pun merilis lima strategi bagi korporasi. Pertama, antisipasi risiko geopolitik dengan diversifikasi pasar dan rantai pasok regional. Kedua, kelola risiko nilai tukar melalui hedging dan pencocokan arus kas.
Ketiga, bangun struktur keuangan sehat dengan leverage terukur dan diversifikasi sumber pendanaan. Keempat, manfaatkan pergeseran rantai pasok regional seiring meningkatnya investasi Tiongkok di Indonesia yang mencapai USD 34,19 miliar pada sektor logam, transportasi, dan energi.
Kelima, perkuat posisi dalam rantai pasok global melalui kolaborasi industri, termasuk kerja sama Two Parks Twin Countries (TCTP) Mei 2025.
Dengan kesiapan strategis, korporasi tidak hanya bertahan tetapi juga menangkap peluang jangka panjang di tengah dinamika global yang terus berubah.













