Jakarta, CoreNews.id — Nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai wajarnya atau undervalued. Pelemahan rupiah yang terjadi tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia yang masih kuat. Pada kuartal I-2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai 5,61% secara tahunan, inflasi tetap rendah, pertumbuhan kredit solid, serta cadangan devisa masih kuat.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di Jakarta (12/5/2025). Penjelasan Perry tersebut disampaikan menanggapi nilai tukar rupiah yang terus berada di bawah tekanan sepanjang tahun ini.
Mengutip Bloomberg, Rabu (13/5/2026) pukul 11.39 WIB, rupiah spot berada di level Rp 17.501 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat tipis 0,16% dibanding sehari sebelumnya. Namun sehari sebelumnya, Selasa (12/5/2026), rupiah sempat menyentuh level penutupan terlemah sepanjang sejarah di posisi Rp 17.529 per dolar AS. Secara year to date, rupiah telah melemah 4,93% dari posisi awal tahun di level Rp 16.680 per dolar AS.
Untuk menahan tekanan terhadap rupiah, BI kemudian menyiapkan tujuh strategi utama. Langkah tersebut meliputi penguatan intervensi di pasar valas domestik dan offshore, mendorong aliran modal asing melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), melanjutkan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder, memperkuat likuiditas perbankan, hingga memperketat pembelian dolar AS tanpa underlying.
BI juga memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional serta meningkatkan pengawasan terhadap pembelian valas oleh perbankan dan korporasi. Di tengah tekanan tersebut, BI mencatat aliran modal asing ke pasar SBN dan SRBI sepanjang April 2026 mencapai Rp 61,6 triliun dan memperkirakan tekanan musiman terhadap rupiah akan mulai mereda.*













