Jakarta, CoreNews.id – Pengamat ekonomi menilai anggapan yang mengaitkan kenaikan utang negara dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan pemahaman fiskal yang terlalu sederhana. Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita, menegaskan utang pemerintah bukan digunakan untuk membiayai satu program tertentu saja, melainkan bagian dari strategi pembiayaan negara secara menyeluruh.
“Dalam struktur APBN modern, utang negara tidak pernah berdiri untuk membiayai satu program tunggal,” ujar Ronny, Selasa (12/5/2026).
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), utang pemerintah pusat hingga 31 Maret 2026 mencapai Rp9.920,42 triliun atau 40,75 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Ronny menilai program MBG justru merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, pemenuhan gizi anak dapat meningkatkan kapasitas kognitif dan produktivitas ekonomi generasi mendatang.
Ia juga menyebut program MBG memiliki efek berganda terhadap ekonomi domestik, mulai dari sektor pertanian, peternakan, UMKM pangan hingga penciptaan lapangan kerja lokal.












