Jakarta, CoreNews.id – Pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa Memorandum of Understanding (MoU) antara Iran dan Amerika Serikat telah ditandatangani secara elektronik oleh kedua pihak dan kini mulai berlaku efektif.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, 17/6/2026, mengatakan dokumen tersebut telah disetujui dan ditandatangani oleh para pemimpin kedua negara, sehingga rencana upacara penandatanganan resmi yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Swiss, tidak lagi diperlukan.
Menurut Baghaei, penandatanganan elektronik dilakukan setelah seluruh proses perundingan dan finalisasi naskah selesai. Dengan demikian, implementasi poin-poin yang tercantum dalam MoU dapat segera dimulai sesuai jadwal yang telah disepakati.
MoU tersebut menjadi langkah penting dalam upaya meredakan ketegangan yang selama bertahun-tahun mewarnai hubungan Teheran dan Washington. Meski rincian lengkap isi dokumen belum dipublikasikan secara resmi, sejumlah laporan media menyebutkan kesepakatan itu mencakup penghentian permusuhan, pembukaan kembali jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz, serta kerangka kerja untuk melanjutkan dialog mengenai program nuklir Iran dan isu sanksi ekonomi.
Pemerintah Iran menegaskan bahwa kesepakatan tersebut merupakan hasil negosiasi intensif yang melibatkan berbagai pihak dalam beberapa pekan terakhir. Teheran juga menyatakan komitmennya untuk menjalankan seluruh ketentuan yang telah disepakati selama pihak lain melakukan hal yang sama.
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat belum merilis dokumen lengkap MoU kepada publik. Namun sejumlah pejabat AS sebelumnya menyatakan bahwa kesepakatan tersebut diharapkan dapat menjadi fondasi bagi stabilitas kawasan Timur Tengah dan menjaga kelancaran perdagangan global, terutama yang terkait dengan distribusi energi melalui Teluk Persia.
Para pengamat menilai implementasi MoU akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah hubungan kedua negara ke depan. Selain itu, perkembangan tersebut juga diperkirakan akan menjadi perhatian pasar energi global mengingat posisi strategis Selat Hormuz sebagai salah satu jalur utama pengiriman minyak dunia.
Sumber: Al Jazeera.com













