Jakarta, CoreNews.id – Dunia akademik internasional berduka atas wafatnya Profesor John L. Esposito, cendekiawan Amerika Serikat yang dikenal luas sebagai salah satu pakar studi Islam paling berpengaruh di dunia Barat. Esposito meninggal dunia pada Rabu (15/7/2026) dalam usia 86 tahun. Kabar duka tersebut disampaikan keluarga dan Universitas Georgetown, tempat ia mengabdikan sebagian besar karier akademiknya.
Selama lebih dari lima dekade, Esposito berupaya mengoreksi berbagai kesalahpahaman Barat terhadap Islam melalui riset, pengajaran, dan dialog lintas agama. Dikutip Al Jazeera, Jumat (17/7/2026), ia lahir di Brooklyn, New York, pada 1940 dan pernah berguru kepada cendekiawan Palestina-Amerika, Isma’il Raji al-Faruqi. Pengalaman itu membentuk komitmennya untuk menjelaskan Islam berdasarkan konteksnya sendiri, bukan melalui stereotip maupun prasangka.
Warisan Ilmiah dan Dialog Antaragama
Sebelum bergabung dengan Universitas Georgetown, Esposito mengajar hampir dua dekade di College of the Holy Cross. Di Georgetown, ia mendirikan Pusat Pemahaman Muslim-Kristen, yang kemudian berkembang menjadi salah satu pusat dialog antaragama paling terkemuka di dunia. Ia juga menggagas Bridge Initiative, program riset yang fokus mengkaji dan melawan Islamofobia.
Produktivitas ilmiahnya sangat mengesankan. Esposito menulis, menyunting, atau menjadi editor lebih dari 50 buku yang diterjemahkan ke dalam 35 bahasa. Karya-karyanya, seperti The Islamic Threat: Myth or Reality?, The Future of Islam, dan Who Speaks for Islam?, menjadi rujukan penting dalam memahami dinamika Islam kontemporer.
Sebagai seorang Katolik yang taat, Esposito meyakini bahwa keyakinan terhadap agama sendiri dapat berjalan seiring dengan penghormatan terhadap tradisi agama lain.
Kepergiannya memicu gelombang belasungkawa dari berbagai tokoh dunia. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyebut Esposito sebagai “sahabat sejati dunia Islam”, sementara Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) menilai dedikasinya telah membantu mendidik mahasiswa, pembuat kebijakan, jurnalis, hingga pemimpin agama tentang pentingnya pemahaman Islam yang akurat dan berbasis fakta.












