Analisis Kantar menunjukkan 73 persen marketer berencana meningkatkan belanja creator, tetapi hanya 29 persen yakin mampu mengukur dampaknya terhadap pertumbuhan merek.
Jakarta, CoreNews.id — Investasi pemasaran melalui content creator terus meningkat. Namun, banyak pemasar masih kesulitan membuktikan apakah konten yang ramai ditonton benar-benar berdampak terhadap pertumbuhan merek atau brand.
Analisis terbaru Kantar menunjukkan, 73 persen pemasar berencana meningkatkan belanja untuk creator, sedangkan hanya 29 persen yang yakin mampu mengukur dampak investasi tersebut.
Studi terhadap 15.000 aset konten creator pada 2026 juga menemukan bahwa tingkat interaksi atau engagement hanya berkorelasi dengan dampak terhadap merek dalam sekitar sepertiga kasus.
Temuan ini menunjukkan bahwa jumlah penonton, tanda suka, dan komentar belum cukup untuk menilai keberhasilan pemasaran digital.
Konten populer belum tentu membangun merek
Menurut Kantar, konten creator memiliki potensi menghasilkan dampak jangka pendek sekaligus memperkuat ekuitas merek dalam jangka panjang.
Analisis Kantar bersama Whalar terhadap 101 aset konten menemukan, 62 persen konten mampu menghasilkan kedua dampak tersebut. Angka ini lebih tinggi dibandingkan norma iklan digital Kantar sebesar 27 persen.
“Engagement tetap memberikan informasi yang berguna, tetapi tidak cukup sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan,” ujar Hani, Creative Solutions Lead Kantar Indonesia, dalam siaran pers, 12/10/2026.
Kantar juga mencatat dampak konten creator terhadap merek meningkat sekitar 77 persen sejak 2022, jauh di atas kenaikan rata-rata sekitar 4 persen pada 20 titik kontak pemasaran teratas.
Strategi kreatif menentukan hasil
Kantar mengidentifikasi empat prinsip untuk meningkatkan efektivitas konten creator. Pertama, menempatkan produk sebagai bagian penting dalam cerita. Kedua, memperlihatkan manfaat produk melalui demonstrasi nyata.
Ketiga, menjaga autentisitas dan relevansi creator dengan merek. Keempat, menyertakan ajakan bertindak atau call to action yang sesuai dengan kebutuhan audiens.
Instagram dan TikTok juga dapat memberikan dampak berbeda. Instagram cenderung unggul dalam membangun merek, sedangkan TikTok lebih kuat mendorong interaksi melalui penceritaan.
Namun, pemilihan platform tetap perlu disesuaikan dengan tujuan komunikasi dan pendekatan kreatif.
Kantar menilai keberhasilan pemasaran creator tidak cukup diukur dari besarnya anggaran atau ramainya interaksi. Pemasar perlu mengidentifikasi konten yang benar-benar membangun permintaan dan pertumbuhan merek.













